Takhta Pengadilan ( 6 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Daniel 7:9-10. 13-14dan Lukas 9:28b-36
“Inilah Anak-Ku, pilihan-Ku, dengarkanlah Dia” (Luk. 9:35).

Dalam hidup ini, kita tergoda untuk berpikir bahwa apa yang dilakukan hari ini tidak terlalu berdampak. Akibatnya, kita sering kali mengabaikan tindakan kecil yang salah, menunda pertobatan, dan bersikap seolah waktu masih panjang. Namun, firman Tuhan mengingatkan dengan sangat jelas bahwa setiap perbuatan manusia akan diadili, dan Tuhan adalah Hakim yang adil dan mulia.

Dalam penglihatan Nabi Daniel (7:9–10, 13–14), ia melihat takhta-takhta diletakkan, dan Yang lanjut usianya —yaitu Tuhan sendiri—duduk di atas takhta-Nya. Pakaiannya putih seperti salju, rambut-Nya seperti bulu domba yang bersih. Takhta-Nya bagaikan nyala api, dengan roda-rodanya menyala-nyala. Ribuan melayani Dia, dan berjuta-juta berdiri di hadapan-Nya. Kemudian duduklah Majelis Pengadilan dan kitab-kitab dibuka. Ini adalah gambaran yang agung sekaligus menggentarkan: bahwa suatu saat nanti, kita semua akan berdiri di hadapan Tuhan, dan seluruh catatan hidup kita akan dibuka.

Dalam penglihatan itu juga tampak seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan dari langit. Ia diberikan kekuasaan, kemuliaan, kerajaan, dan semua bangsa serta bahasa mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal, tidak akan lenyap. Di sini kita melihat bahwa Yesus Kristus, Sang Anak Manusia, adalah Raja sekaligus Hakim yang akan memerintah untuk selama-lamanya.

Peristiwa serupa tampak dalam Lukas 9:28b–36, ketika Yesus naik ke atas gunung bersama Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Di sana, Yesus berubah rupa: wajah-Nya bersinar, dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau. Musa dan Elia menampakkan diri, berbicara dengan-Nya tentang kepergian-Nya—salib dan penggenapan misi-Nya di Yerusalem. Lalu datanglah awan dan terdengar suara dari langit: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Sebuah penegasan bahwa Yesus adalah utusan Allah yang harus kita dengar dan ikuti.

Seringkali, manusia berpikir: “Tak ada yang melihat. Tak ada yang tahu. Aman-aman saja.” Tapi kebenarannya adalah: mata Tuhan tidak pernah terpejam. Ia melihat apa yang tersembunyi di balik senyum, di balik layar, bahkan di dalam pikiran. Tidak ada satu pun yang luput dari pengamatan-Nya. Apa yang kita pikir aman hari ini, akan terlihat jelas di hadapan takhta-Nya kelak.

Ingatlah, semua perbuatan—baik ataupun jahat—dicatat. Kitab akan dibuka, dan setiap manusia akan dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup bukan soal lolos dari mata manusia, tetapi soal tanggung jawab di hadapan Allah yang Mahatahu. Janganlah kita menunda pertobatan, jangan remehkan dosa kecil, dan jangan merasa aman hanya karena tidak ada yang memergoki.

Sebab itu, marilah kita hidup dengan takut akan Tuhan, bukan karena takut dihukum, tetapi karena sadar bahwa hidup ini penuh makna dan tanggung jawab. Kita tidak berjalan di ruang kosong. Kita hidup di hadapan Allah yang kudus, yang mengasihi, namun juga menghakimi dengan adil. Mari kita dengarkan Dia, dan hidup dalam terang kasih-Nya. Amin

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *