Melepaskan Segala Harta ( 18 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Hakim-hakim 2:11-19 dan Matius 19:16-22. Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya (Mat. 19:21-22).

Ada seorang muda yang kaya, yang bukan murid Yesus, datang dan bertanya kepada Yesus tentang apa yang harus diperbuat supaya dapat masuk ke surga (Mat. 19:16). Yesus menjawab bahwa untuk masuk ke surga, cukup dengan melakukan segala perbuatan baik yang tertulis dalam Taurat (Mat. 19:18). Perbuatan baik yang disebut larangan membunuh, berzina, mencuri, serta berbohong. Semuanya itu adalah hukum moral umum yang diterima sebagai perbuatan saleh oleh hampir semua agama dan budaya di dunia ini. Norma moral ini diterima secara universal oleh semua umat manusia di bumi: berbuat baik dan tidak berbuat jahat kepada sesama manusia. Itulah kehendak Allah bagi semua manusia di dunia, yakni mengetahui hukum ini. Karena itu, semua umat manusia ciptaan Allah memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidup yang kekal.

Namun, rupanya orang muda yang kaya itu tidak seperti kebanyakan orang Farisi, yang berpuas diri dengan segala ketaatan agamawi yang telah mereka jalani. Ia justru tidak puas dengan segala kesalehan yang telah ia lakukan sejak dulu. Ia merasa ada sesuatu yang lebih dari itu dalam melayani Allah.

Tentu, untuk menemukan dan mengalami Tuhan dengan benar tidak cukup dengan hidup baik, karena banyak orang non-Kristen pun dapat menjadi baik, bahkan lebih baik dari orang yang mengaku beragama Kristen. Beberapa di antara mereka memiliki hati yang mulia menurut ukuran manusia. Contohnya, baru-baru ini ada seorang bidan muda di Sumatra Barat yang rela mempertaruhkan nyawanya dengan menyebrangi sungai yang deras arusnya, demi menolong pasien di pedalaman. Karena itu, jika seorang mengaku Kristen tapi masih terikat dengan segala kejahatan dan tidak berjuang untuk berubah, pastilah ia tidak pernah mengenal Allah dengan benar, alias hanya beragama Kristen di KTP saja.

Orang yang selalu haus akan Allah, akan dibawa ke level yang lebih tinggi untuk mengalami-Nya. Seperti kepada orang muda yang kaya ini, Yesus menawarkan suatu level pengalaman akan Allah yang lebih tinggi: kesempurnaan. Namun, level ini menuntut pengorbanan yang lebih juga. Yesus meminta orang muda ini untuk melepaskan hartanya. Sebagai orang saleh, ia suka memberikan sebagian dari hartanya untuk beramal. Namun, ternyata ia tidak sanggup melepaskan seluruh hartanya dan menjadi miskin.

Hal ini bukan berarti setiap kita harus menjadi miskin untuk menjadi pengikut Yesus, melainkan siap untuk melepaskan “harta.” Harta adalah apa yang kita anggap paling berharga dalam hidup ini. Harta tidak selalu berupa kekayaan materi, melainkan segala sesuatu yang tidak bisa kita lepaskan, karena tanpa disadari kita menganggapnya lebih berharga daripada Tuhan. Untuk orang muda itu, hartanya adalah kekayaannya yang paling berharga.

Ada orang yang rela melepas segala harta, tetapi tidak sanggup kehilangan harga diri, sehingga demi mempertahankan harga dirinya ia bisa melukai perasaan Tuhan. Beberapa orang menganggap pasangannya yang paling berharga, sehingga ia bunuh diri ketika ditinggal pasangannya. Ada yang menganggap anaknya paling berharga, sehingga tidak ada menantu yang cukup baik untuk anaknya, dan ia tidak rela ditinggal anaknya menikah. Ada pula yang menganggap hobbinya (seperti nonton serial, bermain game, olah raga, dll) sangat penting sehingga mengalokasikan waktu lebih banyak untuk hal itu daripada untuk beribadah atau membaca Alkitab.

Bagaimana dengan kita, apakah masih ada yang kita anggap sangat berharga dan tidak mau kita lepaskan, walaupun kita tahu bahwa Allah meminta kita melepaskannya? Panggilan untuk menjadi pengikut Kristus yang sempurna bukanlah untuk menjadi baik dalam pandangan dunia ini, melainkan kerelaan untuk mengorbankan segala yang kita anggap berharga, sampai kita dapat berkata “tidak ada yang lebih berharga dari Engkau, Tuhanku.”

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *