| Renungan hari ini dari bacaan Kebijaksanaan 13:1-9, Lukas 17:26-37.” Ingatlah akan isteri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” (Luk. 17:32-33) |
Yesus mengajak kita untuk kembali mengingat peristiwa Sodom.
Ketika langit Sodom mulai merah menyala dan hujan api turun, Lot dan keluarganya berlari meninggalkan lembah Yordan dengan nafas yang tersengal. Malaikat sudah memberi perintah tegas: “Larilah sekuat tenaga! Selamatkanlah nyawamu! Jangan menoleh ke belakang!” Tetapi di tengah perjalanan, istri Lot berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan seketika itu juga ia menjadi tiang garam.
Tampaknya yang dilakukan istri Lot adalah hal yang sepele: sekadar menoleh. Dia tidak melakukan tindakan kriminal seperti; membunuh, merampok, atau menganiaya orang lain. “Menoleh” juga tidak memiliki kesan imoralitas: seperti selingkuh, berbohong, atau menyebarkan gosip. Lalu mengapa dia harus dihukum sama seperti penduduk kota Sodom yang jahat?
Setiap tindakan pasti berasal dari motivasi hati yang terdalam. Jadi menolehnya istri Lot, bukanlah sekadar gerakan refleks dari kepala, melainkan gerakan yang muncul dari hati. Jiwanya masih terikat pada kehidupannya yang lama di Sodom, pada dunia yang sedang dihukum. Ia telah keluar dari Sodom secara jasmani, tetapi Sodom tidak pernah keluar dari jiwanya.
Dalam bahasa Ibrani, kata “menoleh” di sini adalah נָבַט (nabat), yang berarti memandang dengan perhatian, dengan keinginan. Jadi bukan sekadar “melirik karena penasaran,” melainkan melihat dengan kerinduan. Istri Lot tidak sekadar ingin tahu apa yang terjadi di belakang; ia merindukan apa yang telah ia tinggalkan. Tubuhnya telah meninggalkan Sodom karena malaikat Allah menariknya, tapi hatinya tidak pernah meninggalkan Sodom.
Sodom telah menjadi bagian dari hidupnya: kehidupan yang mewah, rumah yang nyaman, teman-teman yang sefrekuensi dengannya, dan segala hal yang membuat hidup terasa “aman.” Tetapi Sodom juga adalah simbol dosa, kesombongan, dan penolakan terhadap Allah. Ketika Allah memanggil mereka keluar, Ia bukan hanya ingin memindahkan kelaurga Lot mereka secara geografis, tetapi tujuan utamanya adalah mengubah jiwa mereka.
Namun, di tengah jalan menuju keselamatan, istri Lot berhenti. Ia menoleh, dan dalam sekejap, ia menjadi tiang garam. Mengapa Allah begitu keras terhadap istri Lot? Karena Allah ingin setiap orang menyikapi serius terhadap keselamatan yang telah dianugerahkan-Nya.
Istri Lot sudah ditarik keluar dari Sodom oleh kasih karunia Allah. Namun kasih karunia itu menuntut respon yang sungguh-sungguh. Ketika ia menoleh, ia menolak keselamatan yang sudah ditawarkan. Dengan menoleh, hatinya seolah berkata, “Aku tidak ingin pergi, aku masih ingin berada di sana.”
Maka Allah menghargai pilihan yang diambil istri Lot, dan ia menerima bagian yang sama dengan kota yang ia cintai. Ia menjadi tiang garam, simbol jiwa yang membeku di antara keselamatan dan kebinasaan. Jiwa yang masih bermain-main dan tidak serius dengan kasih karunia Allah. Ini adalah sebuah peringatan serius, Allah menawarkan kasih karunia-Nya dengan penuh kemurahan, tetapi anugerah itu harus diresponi dengan totalitas.
Yesus menggunakan kisah istri Lot sebagai contoh untuk memperingatkan kita, “Ingatlah akan isteri Lot!” (Luk. 17:32). Istri Lot bukan sekadar legenda di masa lalu, melainkan peringatan untuk generasi yang selalu tergoda menoleh ke belakang. Menangisi, menyesali, atau bahkan merindukan masa lalu, yang Allah ingin kita tinggalkan.
Dalam kehidupan kita, “Sodom” bisa berarti banyak hal: masa lalu yang penuh dosa, hubungan yang salah, kesenangan yang menyesatkan, atau bahkan masa kesuksesan yang membuat kita sombong. Kadang, setelah kita memutuskan mengikuti Allah, kita masih sering menoleh, bukan dengan tubuh, tapi dengan hati:
“Dulu hidupku lebih bebas…”
“Dulu aku lebih sukses…”
“Dulu aku lebih bahagia…”
Namun setiap kali kita menoleh dengan kerinduan seperti itu, kita membekukan pertumbuhan rohani kita. Kita menjadi seperti tiang garam, berdiri di tempat, stagnan, tanpa hidup, tanpa arah, dan lambat tapi pasti: mati rohani.
Menoleh ke belakang juga bisa berarti terjebak dalam penyesalan masa lalu. Banyak orang tidak bisa maju karena terus menatap kegagalan dan dosa yang pernah mereka perbuat, dan menyebabkan kemelut kehidupan saat ini. Mereka hidup dalam bayang-bayang “andai saja” dan merasa tidak layak melangkah.
Namun Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup dalam rasa bersalah yang abadi. Penyesalan yang sehat membawa kita kepada pertobatan, tetapi penyesalan yang berlarut membuat kita terikat pada masa lalu.
Allah tidak berurusan dengan masa lalu kita, Ia berurusan dengan kita hari ini. Allah sanggup menghapus segala kesalahan dan dosa kita, Ia mengampuni dan juga melupakan. Jadi, jika Allah telah melupakan segala kesalahan kita, mengapa kita mau melampaui Allah dengan terus mengingat kegagalan masa lalu?
Menoleh ke belakang dengan penyesalan berarti kita lebih percaya pada bayangan masa lalu daripada kuasa kasih karunia Allah yang memulihkan. Tetapi ketika kita menatap ke depan dengan iman, kita menyadari bahwa Tuhan dapat menebus masa lalu tanpa harus mengulanginya. Terus-menerus hidup dalam penyesalan masa lalu akan menghambat langkah kaki kita dalam mengikut Kristus. Allah tidak ingin kita menoleh ke belakang, masa lalu biarlah berlalu, karena Allah menyediakan masa depan yang indah di dalam kasih-Nya.
Relakan dunia ini, selesai dengan diri sendiri dan masa lalu. Kita tidak dapat mempertahankan hidup lama kita, sekaligus menerima hidup baru dari Allah. Kita harus berani melepaskan yang lama untuk mendapatkan hidup baru yang kekal.
Yesus berkata, “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 17:33). Kata nyawa di sini adalah psyche yang artinya jiwa. Di dalam jiwa manusia ada pikiran, perasaan, keputusan dan keinginan.
Di mata Allah itu tidak ada dosa yang sepele. Allah serius berurusan dengan setiap dosa dan kemelesetan. Kerajaan Allah yang akan datang haruslah bersih dari setiap potensi kemelesetan jiwa manusia yang berdosa. Segala pikiran, perasaan, keinginan yang salah tidak bisa mendapat bagian dalam Kerajaan-Nya.
Karena itu:
Jangan menoleh ke belakang.
Jangan larut dalam penyesalan.
Jangan menunda pertobatan.
Sebab Allah memanggil kita untuk melangkah ke depan dengan iman, menuntun kita menuju Kanaan surgawi yang disediakan bagi kita.
