| Bacaan hari ini dari 1 Samuel 1:9-20; Markus 1:21b-28. “TUHAN Semesta Alam, jika Engkau sungguh memperhatikan sengsara hamba-Mu ini, mengingat dan tidak melupakan hamba, tetapi memberi hamba seorang anak laki-laki, maka hamba akan memberikan dia kepada TUHANN seumur hidupnya” (1Sam.1:11). |
Dalam kehidupan beriman, berkat bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah panggilan. Bacaan dari 1 Samuel 1:9–20 dan Markus 1:21b–28 menegaskan bahwa setiap orang yang mengalami kasih dan kuasa Allah dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Berkat Tuhan selalu memiliki arah keluar, bukan berhenti pada diri sendiri.
Kisah Hana dalam 1 Samuel 1:9–20 menggambarkan seseorang yang datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan penuh harapan. Hana menanggung penderitaan karena ketidakmampuannya memiliki anak. Dalam kepedihannya, ia datang kepada Tuhan, mencurahkan isi hatinya. Doa Hana bukan sekadar permintaan egois, melainkan doa yang disertai penyerahan. Ia bernazar bahwa jika Tuhan memberinya seorang anak laki-laki, anak itu akan dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Ketika Tuhan mengabulkan doanya dengan kelahiran Samuel, berkat itu tidak disimpan Hana untuk dirinya sendiri. Samuel menjadi alat Tuhan yang besar bagi bangsa Israel. Dari kisah ini, kita belajar bahwa berkat sejati selalu disertai tanggung jawab untuk dipersembahkan kembali bagi kemuliaan Tuhan dan kebaikan bagi banyak orang.
Sementara itu, dalam Markus 1:21b–28, kita melihat Yesus yang mengajar dengan kuasa dan membebaskan seseorang yang dirasuki roh jahat. Kehadiran Yesus membawa perubahan nyata: pengajaran-Nya memberi pengharapan, dan kuasa-Nya membebaskan yang terbelenggu. Yesus adalah sumber berkat itu sendiri, dan dari-Nya mengalir pemulihan bagi banyak orang. Ia tidak menyimpan kuasa-Nya, melainkan menggunakannya untuk melayani, menyembuhkan, dan memulihkan martabat manusia. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu takjub, karena mereka merasakan dampak nyata dari kehadiran Allah di tengah mereka.
Kedua bacaan ini menegaskan bahwa berkat Tuhan selalu membawa dampak sosial dan rohani. Hana yang diberkati melahirkan seorang pemimpin rohani bagi bangsa Israel, dan Yesus yang penuh kuasa menghadirkan pembebasan bagi mereka yang tertindas. Demikian juga dengan kita. Ketika kita diberkati, baik melalui kesehatan, kemampuan, kesempatan, maupun pengalaman iman, Tuhan menghendaki agar berkat itu tidak dinikmati diri sendiri saja melainkan dibagikan. Kita dipanggil menjadi berkat melalui tindakan kasih, perkataan yang membangun, pelayanan yang tulus, dan kesediaan untuk hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Tujuan hidup orang percaya bukan hanya menerima berkat, tetapi menghidupi berkat itu bagi dunia. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian nyata bahwa Allah bekerja melalui orang-orang yang mau taat dan berbagi. Saat kita setia menjadi berkat setelah diberkati, nama Tuhan dimuliakan dan banyak orang mengalami kasih-Nya melalui hidup kita. Amin.

satu Respon
777ace https://www.777aceex.com