Mentahirkan Penderita Sakit Kulit yang Menajiskan  ( 15 Januari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 1 Samuel 4:1-11; Markus 1 :40-45
“Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah tahir” (Mrk. 1:41)

Kesembuhan mendatangkan kegembiraan bagi orang sakit.  Beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang menunggu antrian di rumah sakit, saya berjumpa dengan sahabat lama. Ia bercerita bahwa telinganya berdengung hebat, amat mengganggu, sehingga ia pergi berobat kepada seorang dokter. Dokter memeriksa telinganya, dan dengan cara hanya memutar kepalanya kekiri dan ke kanan secara berulang-ulang dengung itu berhenti. Dengung di telinganya hilang tanpa perlu obat-obatan atau terapi tertentu. Sahabat saya bercerita dengan sangat gembira atas kesembuhannya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang yang menderita sakit kulit yang menajiskan, yang yang datang kepada-Nya (Mrk. 1:40-45).   Sakit kulit yang sering diartikan sakit kusta meskipun sebenarnya tidak sama, termasuk penyakit kulit yang mengerikan dan ditakuti pada zaman Yesus. Karena itu, penyembuhan orang ini termasuk peristiwa yang langka dan mengherankan.

Diceritakan bahwa seorang penderita sakit kulit ini datang kepada Yesus, dan ingin disembuhkan (ay. 40).  Keadaan fisiknya yang kotor membuat dia dikucilkan dari masyarakat. Agar dapat dikenali sebagai orang menderita sakit kulit yang menajiskan, ia harus mengenakan pakaian koyak-koyak, membiarkan rambutnya terurai dan ia menutupi bagian bawah mukanya sambil berseru-seru; Najis! Najis!  Selama ia mengidap penyakit itu, ia tetap Najis dan harus tinggal terasing di luar perkemahan. Itulah tempat kediamannya (Im. 13:45-46).

Menurut hukum agama Yahudi, penyakit kulit yang menajiskan ini bukan hanya masalah kesehatan melainkan juga masalah keagamaan, karena yang menentukan apakah seorang terkena kusta Adalah imam. Kalau seorang imam menyatakan seseorang menderita kusta, orang itu dipandang najis (Im. 13:3). Artinya, orang yang Najis tidak layak menghadap Tuhan dalam ibadah dan harus dikucilkan.

Hal pertama yang dilakukan orang kusta itu adalah datang kepada Yesus. Ia sudah mendengar kabar tentang Yesus, yang banyak menyembuhkan orang sakit. Ia percaya dan berkata “kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku”.  Berapa dari kita yang kalau mengalami masalah baik fisik maupun rohani mau datang dan mencari ‘kesembuhan’ pada Yesus. Seperti yang dilakukan orang kusta, ia   percaya bahwa kesembuhan sejati adalah kesembuhan yang berasal dari Tuhan.

Mendengar permintaan orang yang sakit kulit itu, Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh orang itu. Terdorong oleh belas kasihan, Yesus mau mengulurkan tangan-Nya, menjamahnya dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir”.  Seketika itu juga lenyaplah penyakit orang itu.  Yesus punya kuasa untuk menahirkan, menjadikan seorang yang tidak layak menjadi layak kembali untuk datang kepada Tuhan.

Setelah menahirkannya, Yesus menyuruh orang itu pergi untuk melakukan upacara pentahiran bagi orang yang telah sembuh dari penyakit kulit yang menajiskan itu (Im. 14). Namun, kesembuhan itu mendatangkan kegembiraan bagi si kusta dan ia tidak dapat tinggal diam. Ia menceritakan kesembuhannya kepada orang-orang yang dijumpainya, sekalipun Yesus melarang. Akibatnya, Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota.

Apa yang bisa kita petik dari perikop ini? Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak lagi takut dengan orang-orang yang “najis”, tetapi berani “menjamah” mereka dengan kasih,  sehingga orang yang sakit secara fisik maupun rohani bisa mendapat kesembuhan.  Kita diajak untuk  menjadi kepanjangan tangan Tuhan dalam karya dan pelayanan penyembuhan, baik penyembuhan  fisik maupun penyembuhan rohani dari orang-orang yang membutuhkan Tuhan.

Penulis

satu Respon

  1. You could definitely see your expertise in the paintings you write. The sector hopes for even more passionate writers like you who aren’t afraid to mention how they believe. At all times go after your heart. “Billy Almon has all of his inlaw and outlaws here this afternoon.” by Jerry Coleman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *