PENGAMPUNAN JELAS MUSTAHIL ( 28 Februari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Ulangan 26:16-19; Matius 5:43-48
“Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Penyair Inggris Alexander Pope pernah menulis kalimat yang sangat terkenal: “To err is human; to forgive, divine.” (Berbuat salah adalah manusiawi; mengampuni adalah ilahi). Kalimat ini menangkap dengan indah sebuah kebenaran alkitabiah: pengampunan, dalam maknanya yang terdalam, bukanlah sekadar sikap psikologis, melainkan partisipasi dalam hidup Allah sendiri.

Secara manusiawi, kita cenderung membalas. Ketika disakiti, kita ingin keadilan yang setimpal; ketika dikhianati, kita ingin jarak; ketika difitnah, kita ingin pembelaan. Namun, dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus menantang kecenderungan itu secara radikal: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Perintah ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan panggilan untuk mengambil bagian dalam kesempurnaan Bapa: “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Dalam konteks Khotbah di Bukit (Mat. 5–7), Yesus tidak sedang menghapus hukum Taurat, tetapi menggenapinya dengan membawa umat masuk ke kedalaman maksud Allah. Kasih kepada sesama sudah dikenal dalam Taurat, tetapi kasih kepada musuh melampaui batas logika timbal balik. Allah sendiri yang menjadi dasar tuntutan ini: Ia menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik; Ia menurunkan hujan bagi orang benar dan orang tidak benar. Dengan kata lain, standar kasih kita adalah karakter Allah sendiri.

Di sinilah bacaan dari Ulangan 26:16–19 menjadi relevan. Israel dipanggil untuk hidup sebagai umat perjanjian yang kudus, menaati perintah Tuhan dengan segenap hati dan jiwa. Kekudusan bukan sekadar identitas, melainkan gaya hidup konkret. Dalam terang Injil, kekudusan itu menemukan bentuknya yang paling radikal dalam kasih yang mengampuni. Maka, mengampuni bukan pilihan tambahan dalam hidup rohani; ia adalah inti panggilan perjanjian.

Yesus sendiri menunjukkan standar ini dalam hidup-Nya. Ia mengajar untuk berdamai segera (Mat 5:25), mengampuni tanpa batas, berulang kali, tujuh puluh kali tujuh (Mat. 18:22), dan bahkan dari kayu salib Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka” (Luk. 23:34). Ia mengampuni bukan karena para pelaku sudah bertobat, melainkan karena kasih-Nya mendahului pertobatan mereka. Pengampunan kristiani bukan reaksi atas perubahan orang lain, tetapi respons iman atas rahmat Allah.

Namun, kita harus jujur: mengampuni musuh terasa mustahil. Luka batin, penghinaan, atau ketidakadilan sering meninggalkan bekas yang dalam. Karena itu, pengampunan sejati tidak lahir dari kekuatan kehendak semata. Ia adalah rahmat. Kita mengampuni karena lebih dahulu telah diampuni. Kita mengasihi karena lebih dahulu dikasihi.

Di sinilah kehidupan rohani menjadi sangat konkret. Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk memeriksa hati: siapa yang masih kita simpan dalam ruang kebencian? Nama siapa yang membuat dada kita sesak? Doa Yesus dalam Injil hari ini menuntun kita untuk menyebut nama itu di hadapan Allah, bukan untuk mengutuk, tetapi untuk memberkati.

Sebuah langkah praktis dapat kita ambil: dalam doa pribadi, katakan dengan sadar, “Dalam nama Yesus Kristus, aku memilih untuk mengampuni (nama) atas (perbuatan).” Pengampunan sering kali bukan peristiwa sekali jadi, melainkan keputusan yang perlu diulang sampai hati kita benar-benar dibebaskan. Mengampuni tidak selalu berarti melupakan, dan tidak selalu berarti menghapus konsekuensi keadilan; tetapi ia selalu berarti melepaskan hak untuk membalas dan menyerahkan penghakiman kepada Allah.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mengampuni itu mudah, tetapi apakah kita berani mempercayakan luka kita kepada Allah. Beranikah kita meninggalkan kebiasaan memelihara dendam? Beranikah kita membiarkan Roh Kudus membentuk hati kita agar semakin serupa dengan Kristus?

Mengampuni adalah tindakan ilahi. Dan justru karena itu, ia adalah jalan kita menuju kekudusan.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *