| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 5: 34-42; Yohanes 6: 1-15 “Rasul-rasul itu meninggalkan sidah Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus” (Kis. 5:41). |
Percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan kepada janji keselamatan-Nya yang kekal adalah anugerah. Bagi para rasul, pengalaman hidup bersama Yesus serta menjadi saksi atas mukjizat-mukjizat keilahian-Nya membawa perubahan arah hidup yang sangat mendalam. Setelah mereka menyaksikan peristiwa-peristiwa besar – Yesus disalibkan, bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, dan berjanji akan datang kembali – semua itu menjadi dorongan yang kuat bagi mereka untuk memberitakan kabar keselamatan, yaitu kebenaran Injil (Kis. 5:42).
Dalam situasi yang tidak mudah, di bawah kerasnya pemerintahan Kekaisaran Romawi, para pengikut Kristus dicurigai sebagai kelompok yang berpotensi memberontak. Akibatnya, para rasul harus mengalami penjara, pengadilan, bahkan siksaan. Mereka menghadapi tuduhan-tuduhan yang serupa dengan yang pernah dialami oleh Yesus sendiri. Namun, respons mereka sungguh luar biasa. Sekalipun mengalami tekanan, siksaan, dan ancaman, mereka tetap memberitakan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan. Pengajaran mereka membawa dampak nyata: orang-orang menyaksikan mukjizat, pertolongan, penghiburan, teguran, dan pengharapan akan keselamatan kekal. Semua ini membuat banyak orang tertarik untuk percaya kepada karya keselamatan Yesus Kristus.
Firman Tuhan juga menegaskan bahwa mewartakan amanat agung tentang penebusan Kristus mendatangkan sukacita yang memenuhi hati, seperti yang dialami para rasul (Kis. 5:41). Pertanyaannya bagi kita: sudahkah kita membagikan pengalaman sukacita bersama Yesus kepada keluarga, kerabat, dan orang-orang di sekitar kita? Sudahkah kita sendiri sungguh mengalami sukacita itu?
Sukacita itu nyata ketika kita mengalami kelepasan dari pergumulan hidup, tekanan, dan keraguan yang panjang, ketika kita membuka hati dan berkata, “Ya Yesus, aku mau. Masuklah sebagai Juruselamatku.” Pada saat itulah anugerah keselamatan menjadi bagian kita. Sukacita surgawi melingkupi hidup kita, memberi kelegaan, menghapus ketakutan, dan menghadirkan pengampunan dosa serta harapan baru yang pasti di dalam Yesus.
Yesus, Sang Junjungan, telah melakukan bagian-Nya: memberikan penebusan dari dosa dan memberitakan kabar keselamatan serta harapan hidup yang kekal. Salah satu konsekuensi dari karya-Nya adalah kepopuleran: orang banyak berbondong-bondong mencari Dia. Namun, Yesus tidak menikmati kepopuleran itu. Ia sadar bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk mencari kemuliaan diri. Ketika orang-orang hendak menjadikan-Nya raja, Ia justru memilih menyingkir ke gunung untuk menyendiri dan membangun relasi yang akrab dengan Allah (Yoh. 6:15).
Dari sini kita belajar bahwa mewartakan kemuliaan Yesus harus sepenuhnya ditujukan bagi kemuliaan Allah, bukan untuk kemuliaan pribadi. Kita tidak layak mengambil kemuliaan itu, sebab hanya Yesus yang layak dipuji. Keteladanan Yesus dalam kerendahan hati dan fokus pada panggilan-Nya mengajar kita untuk lebih mengutamakan kedekatan dengan Allah daripada mengejar pengakuan dunia.
Kiranya kita dimampukan untuk hidup dalam sukacita keselamatan, setia bersaksi di tengah tantangan, dan tetap rendah hati seperti Kristus. Amin.
