| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 8:26-40; Yohanes 6:44-51 “Filipus bergegas ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab Nabi Yesaya. Kata Filipus, “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” Jawabnya, “Bagaimana aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. (Kis. 8:30-31). |
Dalam perjalanan iman, tidak ada orang yang langsung sampai pada pemahaman yang utuh dan sempurna. Kisah Para Rasul 8:26–40 dan Yohanes 6:44–51 memperlihatkan dinamika rohani yang sangat manusiawi sekaligus ilahi: manusia ditarik oleh Allah, mulai mencari, berusaha memahami, lalu akhirnya mengalami perjumpaan yang mengubah hidup.
Pernyataan Yesus dalam Yoh. 6:44 (“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa”) menunjukkan bahwa iman bukan pertama-tama hasil kecerdasan atau usaha manusia, melainkan respons terhadap karya Allah yang lebih dahulu bekerja. Sebelum seseorang mencari Tuhan, Tuhan sudah lebih dahulu mencari dia.
Hal ini nyata dalam kisah sida-sida dari Etiopia. Ia bukan orang Yahudi, tetapi ia memiliki ketertarikan rohani. Ia datang jauh-jauh ke Yerusalem untuk beribadah. Dalam perjalanan pulang ia membaca Kitab Yesaya. Itulah tahap pertama dalam perjalanan iman: ketertarikan dan kerinduan. Tanpa ketertarikan, tidak ada pencarian. Tanpa pencarian, tidak ada perjumpaan.
Ketertarikan pada iman bisa muncul dalam berbagai bentuk dan alasan: Karena mengalami krisis hidup seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan; karena melihat teladan hidup orang lain yang penuh damai; atau karena pertanyaan-pertanyaan eksistensial: “Apa arti hidup saya? Mengapa saya ada?”
Namun, ketertarikan saja tidak cukup. Sida-sida itu tidak berhenti pada rasa ingin tahu, melainkan mulai membaca Kitab Suci. Itulah tahap kedua: kemauan untuk mencari dan belajar. Banyak orang berhenti pada rasa tertarik, tetapi tidak mau melangkah lebih jauh. Mereka ingin mengenal Tuhan, tetapi tidak menyediakan waktu untuk mendengarkan firman-Nya.
Masalahnya, Kitab Suci bukanlah buku yang mudah. Sida-sida itu membaca Yesaya 53, tetapi ia tidak memahaminya. Dengan rendah hati ia mengakui kebingungannya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, jika tidak ada yang membimbing aku?” Pengakuan bahwa kita membutuhkan bantuan sangat penting dalam perjalanan iman.
Banyak orang modern jatuh pada dua ekstrem yang sama-sama berbahaya: merasa tidak perlu membaca Kitab Suci karena dianggap sulit, atau merasa mampu menafsirkannya sendiri tanpa bimbingan. Kitab Suci memang perlu dibaca secara pribadi, tetapi juga perlu dijelaskan dalam komunitas iman.
Allah mengutus Filipus untuk menolong sida-sida itu. Filipus mendekat, mendengar, bertanya, dan menjelaskan Kitab Suci dalam terang Kristus. Penjelasannya membawa sida-sida itu kepada pusat Kitab Suci, yaitu Kristus sendiri. Ia menunjukkan bahwa nubuat Yesaya tentang hamba yang menderita digenapi dalam diri Yesus. Demikianlah Kitab Suci tidak lagi menjadi teks yang membingungkan, tetapi menjadi kisah keselamatan yang hidup.
Ketika pemahaman ini terjadi, muncullah tahap berikutnya: respons iman. Sida-sida itu tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi bergerak menuju tindakan konkret. Ketika melihat air, ia berkata: “Apakah yang menghalangi aku untuk dibaptis?”
Sering kali dalam kehidupan rohani, orang berhenti pada tahap memahami. Mereka tahu banyak tentang Tuhan, tetapi tidak mengambil keputusan untuk sungguh-sungguh mengikuti-Nya, melakukan perubahan hidup.
Setelah dibaptis, sida-sida itu melanjutkan perjalanannya dengan sukacita. Ia telah menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar pengetahuan: ia menemukan kehidupan. Seperti yang dikatakan Yesus: “Akulah roti hidup… Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh. 6:51). Perjumpaan dengan Kristus memberi hidup baru, arah baru, dan sukacita yang tidak tergantung pada situasi.
Di tahap manakah perjalanan iman kita sekarang ini berada? Apakah kita masih pada tahap tertarik tetapi belum mencari? Atau sudah mencari tetapi berhenti karena merasa sulit? Atau sudah memahami tetapi belum mengambil langkah konkret?
Allah masih bekerja sampai hari ini. Ia masih menarik hati manusia, termasuk hati kita. Ia juga masih mencari “Filipus-Filipus” masa kini: orang-orang yang mau taat, peka, dan bersedia menjadi alat-Nya untuk menolong orang lain memahami dan mengalami Kristus.
