| Renungan hari ini dari bacaan : Kisah Para Rasul 8:1b-8; Yohanes 6:35-40. “Akulah roti kehidupan. Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh. 6:35-40). |
Manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah, sehingga diharapkan akan mencerminkan citra-Nya. Allah memberi kehidupan kepada manusia dengan hembusan napas-Nya. Dengan itu, manusia memiliki unsur rohani yang menjadikannya tertarik untuk mengenal dan mendekat kepada Allah penciptanya. Berdasarkan pemahamannya tentang Allah, manusia memberi makna atas peristiwa dan tujuan hidupnya. Tata-kehidupan diatur supaya selaras dengan kehendak Allah. Namun, godaan dunia, kesombongan, ketamakan, dan cinta diri, membuat manusia jatuh dalam dosa yang menariknya jauh dari Allah yang kudus. Dosa menyeret manusia kepada maut. Namun, mereka yang ingin mendekat kepada Allah, terus mencari jalan menuju Allah, sumber kehidupan. Kebahagiaan tertingginya terpenuhi ketika berada dalam persekutuan dengan penciptanya. Kebahagiaan tersebut bersifat kekal, karena Allah adalah kekal.
Seperti tubuh jasmani, jiwa manusia juga memerlukan makanan rohani untuk tetap hidup. Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan. Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi.” (Yoh. 6:35-40). Menerima roti kehidupan, artinya percaya kepada Yesus dan melaksanakan semua ajaran-Nya. Yesus adalah Mesias yang diutus Bapa, untuk menyelamatkan manusia dari cengkeraman kuasa dosa dan maut. Dia sungguh mengenal Bapa di surga, karena berasal dari sana (Yoh. 6:38). Maka mereka yang percaya kepada-Nya, akan dihantar kepada Bapa, beroleh hidup kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman (Yoh. 6:40). Yesus telah memberi teladan, untuk setia melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Meskipun mengalami penolakan, tuduhan palsu, penghianatan, aniaya, bahkan kematian yang mengerikan, Yesus tetap setia. Sehingga komitmen untuk berjalan bersama Kristus, berarti bersedia memanggul salib kehidupan dengan hati terarah kepada Allah. Demikianlah mengapa orang-orang kudus dan para martir begitu teguh mempertahankan imannya.
Sejak kemartiran Stefanus, jemaat Yerusalem mengalami penganiayaan hebat. Mereka semua, kecuali para rasul, tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria. Saulus berusaha membinasakan jemaat itu. Ia menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dari rumah mereka, untuk dijebloskan ke penjara (Kis. 8:1b-3). Tetapi, Allah menjadikan peristiwa itu sebagai sumber kekuatan dan kesaksian iman. Mereka menjelajahi seluruh negeri sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria. Di sana, ia memberitakan Mesias dan mengadakan banyak tanda. Orang lumpuh dan timpang disembuhkan, roh-roh jahat diusir. Banyak orang Samaria menerima pewartaan Filipus dengan sepenuh hati dan sukacita (Kis. 8:4-8). Tekanan dan penindasan terhadap kekristenan, terjadi di segala zaman. Sekarang pun kita menyaksikan di sana-sini orang Kristen dibunuh karena imannya. Kegiatan beribadah terancam, bahkan tempat ibadat dan benda rohani dirusak. Nilai-nilai dan identitas kekristenan mengalami tekanan. Tetapi, sekarang pun Allah menjadikannya sebagai ‘api penyulut’ kebangkitan rohani. Allah menggerakkan hati banyak orang untuk mendekat kepada-Nya. Pewartaan Injil telah mengalami inovasi dalam era kemajuan teknologi, melampaui batas wilayah dan waktu. Informasi tersebar dengan sangat cepat. Belakangan ini terjadi peningkatan signifikan jumlah baptisan dewasa muda di Asia. Juga di Eropa dan Amerika, yang lama dianggap telah meredup. Kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus, telah menemukan jalan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah Bapa, baik sekarang di bumi dan nanti di Surga. Yesus Kristus telah menjadikan diri-Nya Roti Kehidupan, yang kita terima sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal. Amin

satu Respon
I am grateful for this helpful blog