PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH ( 21 April 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 7:51–8:1a; Yohanes 6:30–35
“Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu?” (Yoh. 6:30)

Seseorang baru saja diterima di sebuah Perusahaan besar. Sebelum melaksanakan pekerjannya, ia mendapat penjelasan dari bagian personalia tentang job descriptionnya, serta struktur organisasi perusahaan tersebut. Secara umum ia memahami semuanya, namun ada pertanyaan besar di benaknya, yang ingin ia ajukan kepada bagian personalia itu: Siapakah atasan langsung saya? Bagaimana saya mengenali dia? Bagaimana ciri-cirinya? Dan pekerjaan seperti apa yang ia kehendaki dari saya? Namun, setelah berpikir beberapa saat, pertanyaan itu tidak jadi diajukan, karena ia merasa ragu dan takut dianggap tidak pantas.

Situasi ini mencerminkan kehidupan iman kita. Kita semua mengaku mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kita telah menerima-Nya, bahkan sejak baptisan kita percaya bahwa hidup kita dipulihkan dan damai sejahtera diberikan kepada kita. Namun pertanyaannya: apakah kita sungguh mengenal Dia secara pribadi?

Sering kali, ketika hidup berjalan baik, iman kita terasa kuat. Tetapi, saat kesulitan datang, entah itu pergumulan keluarga, tekanan ekonomi, atau sakit penyakit, kita mulai goyah. Dalam keputusasaan, kita berdoa:
“Tuhan, berikanlah tanda bahwa Engkau ada. Nyatakanlah mujizat-Mu. Jika Engkau menolongku, maka aku akan sungguh percaya dan taat kepada-Mu.

Tanpa kita sadari, kita sedang mengulang sikap orang-orang dalam Injil yang meminta tanda kepada Yesus. Padahal mereka sudah melihat karya-Nya. Kita pun demikian: sudah percaya, tetapi masih menuntut bukti. Mengapa iman kita mudah goyah?

Sejak zaman Perjanjian Lama, Allah telah menunjukkan pemeliharaan-Nya. Melalui Musa, Ia menurunkan manna, roti dari surga, untuk memberi makan bangsa Israel di padang gurun. Itu adalah tanda nyata bahwa Allah memelihara umat-Nya dan bahwa hanya Dialah yang layak disembah.

Namun, Yesus membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam. Ia tidak sekadar memberi roti jasmani, tetapi menawarkan diri-Nya sendiri sebagai “roti hidup.”Seperti yang dikatakan-Nya: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35).

Artinya, kebutuhan terdalam manusia bukan hanya pertolongan sesaat atau mujizat lahiriah, melainkan relasi yang hidup dengan Kristus sendiri. Ia adalah sumber kepuasan sejati, yang mengenyangkan jiwa sampai kepada hidup yang kekal.

Iman sejati tidak dibangun di atas tanda-tanda, melainkan pada kepercayaan kepada pribadi Yesus. Kita dipanggil untuk melayani Tuhan bukan supaya diberkati, tetapi karena kita sudah terlebih dahulu diberkati.

Pekerjaan yang dikehendaki Allah sangat jelas: percaya kepada Dia yang telah diutus-Nya. Dari iman itulah lahir ketaatan, kesetiaan, dan ketekunan dalam hidup sehari-hari.Dia-lah Roti Hidupyang mengenyangkan kita sampai kepada hidup yang kekal.

TUHAN, berikanlah kami hikmat untuk tetap percaya, tekun dan taat terhadap perintah-perintah Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *