| Renungan hari ini dari bacaan 1Petrus 1:10-16; Markus 10: 28-31. “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumah, atau saudara laki-laki atau saudara perempuan, atau ibu atau aya, atau anak-anak, atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima seratus kali lipa…” (Mrk. 10:29-30). |
Dalam kehidupan ini, manusia beranggapan penderitaan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Ketika menghadapi kesulitan, penolakan, atau pengorbanan karena iman, tidak sedikit orang percaya menjadi kecewa dan mempertanyakan kasih Tuhan. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa penderitaan sering kali menjadi jalan yang mendahului kemuliaan yang telah Tuhan sediakan.
Kitab 1 Petrus 1:10-16 menjelaskan bahwa para nabi telah bernubuat tentang kasih karunia yang akan diberikan Allah kepada umat-Nya. Mereka juga menubuatkan tentang penderitaan Kristus dan kemuliaan yang akan datang sesudahnya. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus sendiri harus melalui penderitaan sebelum menerima kemuliaan. Tuhan Yesus mengalami penolakan, hinaan, dan kematian di kayu salib sebelum akhirnya bangkit dan dimuliakan. Karena itu, orang percaya tidak perlu merasa heran apabila dalam mengikut Tuhan juga harus menghadapi penderitaan.
Penderitaan dalam hidup orang percaya bukan berarti Tuhan meninggalkan umat-Nya. Sebaliknya, melalui penderitaan Tuhan sedang membentuk iman, ketekunan, dan kedewasaan rohani. Melalui kesulitan seseorang belajar lebih dekat kepada Tuhan dan semakin memahami kehendak-Nya. Penderitaan juga mengajar manusia untuk tidak putus asa, melainkan berharap sepenuhnya kepada Tuhan.
Petrus menasihatkan jemaat untuk menyiapkan akal budi dan hidup dalam kekudusan. Ini berarti orang percaya harus memiliki pemahaman yang benar tentang penderitaan. Jangan sampai ketika menghadapi kesulitan karena iman, seseorang menjadi tawar hati atau meninggalkan Tuhan. Orang yang memahami firman Tuhan akan mengerti bahwa penderitaan yang dialami demi kebenaran tidak akan sia-sia di hadapan Allah.
Dalam Markus 10:28-31, Petrus berkata kepada Yesus bahwa para murid telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Dia. Mereka rela meninggalkan rumah, keluarga, dan pekerjaan demi mengikuti panggilan Tuhan. Yesus menjawab bahwa setiap orang yang berkorban karena Dia dan Injil akan menerima berkat, meskipun disertai penganiayaan. Dari perkataan Yesus ini kita belajar bahwa mengikut Tuhan memang tidaklah mudah. Ada harga yang harus dibayar, ada penderitaan yang harus ditanggung, tetapi semuanya akan berakhir pada kemuliaan yang telah Tuhan sediakan.
Manusia hanya ingin menerima berkat tanpa mau menerima tanggung jawab: memikul salib. Padahal, kehidupan orang percaya adalah perjalanan iman yang juga mengandung pengorbanan. Ketika seseorang tetap setia dalam penderitaan, imannya menjadi semakin kuat dan hidupnya menjadi kesaksian bagi orang lain. Tuhan tidak pernah membiarkan penderitaan umat-Nya terjadi tanpa tujuan. Di balik setiap pergumulan, Tuhan sedang mempersiapkan kemuliaan yang lebih besar.
Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu memiliki pemahaman yang benar mengenai penderitaan. Jangan melihat penderitaan sebagai hukuman semata, tetapi sebagai proses pembentukan iman. Ketika penderitaan dijalani bersama Tuhan, kita belajar semakin melekatkan diri kepada-Nya dan hidup semakin dikuatkan oleh kasih karunia-Nya.
Tetaplah setia mengikut Tuhan dalam segala keadaan. Jika hari ini kita harus menanggung kesulitan karena iman, ingatlah bahwa penderitaan mendahului kemuliaan. Sama seperti Kristus dimuliakan setelah penderitaan-Nya, demikian pula Tuhan menyediakan sukacita dan kehidupan kekal bagi setiap orang yang tetap setia kepada-Nya. Amin.
