Keindahan Tritunggal Mahakudus di Tengah Hiruk Pikuk Realitas Semu ( 31 Mei 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan: Keluaran 34:4b-6.8-9; Yohanes 3:16-18

Dunia kita sekarang adalah dunia yang hiruk pikuk. Lihat saja informasi, tontonan, dan obrolan yang kita hadapi setiap saat. Dunia tampak penuh aksi; musik semakin menggelegar; informasi tentang kebrutalan dan kejahatan, dari kelas teri sampai kakap, semakin mendominasi. Indera dan pikiran kita dipaksa menerima kebisingan dunia dari gawai, seolah-olah itulah realitas yang sesungguhnya.
Marilah kita berhenti sejenak untuk merenung. Hari ini kita memperingati misteri inti iman kristen, yaitu Tritunggal Mahakudus: Allah yang Esa (satu hakikat) dalam tiga Pribadi, yaitu Allah Bapa, Allah Putra (Sang Sabda), dan Allah Roh Kudus.
Sejak zaman awal Kekristenan, tantangan bertubi-tubi muncul untuk memperdebatkan bagaimana mungkin Allah itu satu sekaligus tiga. Karena manusia sulit memahami sesuatu yang abstrak, banyak yang berpikir bahwa satu tidak mungkin tiga. Para ahli filsafat dan teologi, sejak zaman para Bapa Gereja hingga sekarang, telah berusaha menjelaskan misteri ini. Kita dapat menemukan penjelasannya dalam Katekismus Gereja Katolik. Namun, biarlah pertanyaan selalu ada, sebab sering kali persoalannya bukan karena penjelasan itu tidak benar, melainkan karena yang bertanya tidak mau mendengar atau belum mampu memahami, seperti ketika kita menjelaskan bahwa bumi itu bulat kepada seorang anak kecil.
Sayangnya, ada orang Katolik yang terintimidasi oleh anggapan bahwa misteri Tritunggal Mahakudus tidak masuk akal atau tidak rasional, bahkan sampai membiarkan imannya runtuh. Padahal, dalam semua agama terdapat misteri yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh rasio dan logika manusia. Misteri adalah cara manusia memahami kehidupan dan menghadapi kenyataan yang terus berubah, berliku, dan berat. Tidak semua hal dapat ditangkap oleh indera dan akal budi, sebab manusia bukan hanya memiliki dimensi jasmani, tetapi juga rohani.
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menyatakan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor. 2:9). Perkataan ini menggemakan Yesaya 64:4 yang ditulis hampir tiga ribu tahun yang lalu. Karena itu, marilah kita membuka hati dan akal budi kita untuk melihat makna yang paling penting dan paling dalam dari misteri Tritunggal Mahakudus yang begitu indah.
Bacaan pertama (Kel 34:4-6. 8-9) menggambarkan betapa kudus, besar, dan penuh kasih Tuhan kita. Musa naik ke gunung dengan membawa dua loh batu pengganti yang sebelumnya telah dipecahkannya. Di sana, TUHAN turun dalam awan, sebab manusia tidak akan tahan melihat kekudusan-Nya secara langsung. Tuhan lalu berdiri bersama Musa dan menyerukan nama-Nya sendiri: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya.”
Betapa baiknya Tuhan! Musa dan bangsa Israel baru saja melakukan dosa besar dengan menyembah anak lembu emas, tetapi Tuhan tetap berkenan mendekati mereka dan menyatakan diri-Nya. Kekudusan Allah ternyata tidak menghalangi kasih-Nya; justru kasih-Nya mendorong-Nya untuk tetap hadir di tengah umat yang berdosa.
Dalam 2Kor. 13:11-13), Paulus menegaskan bahwa Allah adalah sumber kasih dan damai sejahtera. Karena itu, kita diajak untuk terus berusaha menuju kesempurnaan hidup. Dalam pengalaman hidup, yang paling kita rindukan sesungguhnya adalah kasih dan damai sejahtera. Namun, untuk mengalami kepenuhannya, kita perlu hidup sesuai dengan kehendak Allah, sumber dari segala kasih dan damai.
Paulus memperkuat ajaran ini dalam Efesus 1:4: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Artinya, sejak semula Allah menghendaki agar manusia hidup dalam kekudusan dan kasih, mengambil bagian dalam kehidupan-Nya sendiri.
Puncak pewahyuan tentang kasih Allah disampaikan oleh Yohanes dalam Injil (Yoh 3:16-18): “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Di sini tampak dengan jelas kebesaran kasih Allah. Namun, kasih Allah tidak dapat dipisahkan dari keadilan-Nya. Karena itu, Yohanes juga mengingatkan bahwa siapa yang menolak Anak Tunggal Allah, menolak keselamatan yang telah disediakan baginya. Allah Mahapengasih, tetapi juga Mahaadil.
Maka seharusnyalah kita menanggapi semua rahmat dan berkat Allah dengan syukur dan pujian. Itulah yang dilakukan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Azarya (Abednego) dalam kidung pujian mereka (Tambahan Dan 3:52-56). Setelah diselamatkan dari tungku api yang menyala-nyala, mereka melambungkan pujian kepada Allah leluhur Israel, kepada nama-Nya yang mulia dan kudus, kepada Allah yang bertakhta dalam bait-Nya, kepada kuasa dan kemuliaan-Nya.
Di tengah dunia yang bising dan sering kali menampilkan realitas semu, Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengajak kita kembali kepada realitas yang paling sejati: Allah adalah kasih. Allah yang Mahakudus itu menyatakan diri sebagai Bapa yang mengasihi, Putra yang menyelamatkan, dan Roh Kudus yang mempersatukan. Dari-Nyalah mengalir kasih, damai sejahtera, keselamatan, dan kehidupan kekal.
Karena itu, marilah kita hidup dalam syukur, iman, dan pujian, sambil terus berpegang pada berkat yang selalu kita dengarkan dalam liturgi: “Semoga anugerah Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *