Hidup Sehat, Hidup Bermakna di Hadapan Tuhan ( 1 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan : 2 Petrus 1: 1-7; Markus 12:1-12
“Kuasa Ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia yang telah memanggil kita untuk kemuliaan dan kebaikan-Nya” (2Ptr. 1:3).

Kemarin saya ke rumah sakit untuk mengantar kakak karena ada beberapa keluhan kesehatan yang muncul akhir-akhir ini. Di rumah sakit itu saya melihat banyak orang yang sedang dalam keadaan menderita. Ada yang mengalami keluhan fisik yang nyata dan memerlukan pertolongan; ada paru-paru yang penuh air; ada langkah yang tertatih. Bahkan orang-orang yang biasanya aktif, ketika sakit harus duduk lemah di kursi roda sambil menahan rasa sakit.

Berbagai macam penderitaan itu membuat mereka lemah, merasakan sakit, dan tidak berdaya. Di antara para pasien itu ada juga orang-orang percaya. Namun, Tuhan mengizinkan semua itu terjadi di dunia ini. Melihat keadaan tersebut, saya semakin menyadari betapa lemahnya tubuh manusia dan betapa manusia membutuhkan kasih serta pertolongan Tuhan Yesus.

Melihat semua itu saya merenung, “Betapa bersyukurnya aku, ya Tuhan, karena masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk melakukan sesuatu.”

Lalu muncul pertanyaan dalam hati: Apa yang bisa kulakukan saat ini, ketika masih berada dalam kondisi yang baik dan sehat? Apakah aku akan melewatkan kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan begitu saja? Ataukah aku akan berusaha sekuat tenaga mengisi hidup ini dengan hal-hal yang baik dan benar, yang berkenan kepada Tuhan dan memuliakan nama-Nya?

Selagi masih diberi kesempatan, kiranya kita menjadi penggarap-penggarap kebun anggur Tuhan yang dapat dipercaya (Mrk. 12:9).

Syukur kepada Tuhan. Rasul Petrus telah menjelaskan bagaimana kita harus merespons kehidupan ini. Kuasa ilahi-Nya sudah kita terima. Ia telah memanggil kita untuk melakukan segala sesuatu yang benar dan hidup saleh melalui pengenalan kita akan Yesus Kristus.

Selagi masih ada kesempatan dan kita masih dimampukan oleh-Nya, kita dipanggil untuk terus berjuang hidup saleh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita dapat mengambil bagian dalam karya-Nya sesuai pimpinan Tuhan, sekaligus melepaskan diri dari hawa nafsu dunia yang mengungkung dan membinasakan.

Perjuangan itu berarti berusaha melepaskan diri dari ego, dari keinginan-keinginan duniawi, pola pikir, dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Darah Yesus memampukan anak-anak-Nya untuk terus berubah, hari demi hari, menuju damai sejahtera yang berasal dari-Nya.

Lalu bagaimana perubahan itu terjadi?

Dalam 2 Petrus 1:5-7 dijelaskan secara rinci langkah-langkah yang perlu ditempuh. Iman harus diwujudkan dalam kebajikan. Kebajikan perlu diperkuat dengan pengetahuan. Pengetahuan akan dikembangkan oleh Tuhan menjadi hikmat. Kemudian kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memiliki penguasaan diri, yang memang harus dibangun setapak demi setapak dengan ketekunan.

Proses itu akan membentuk kesalehan hidup. Ketika prinsip-prinsip kebenaran ilahi ini dijalankan, kita akan dimampukan untuk mengasihi saudara-saudara seiman, dan terus bertumbuh hingga mampu mengasihi semua orang.

Dalam Markus 12:10 Yesus mengutip Mazmur: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Prinsip ini mengingatkan bahwa Kristus adalah dasar dan fondasi kehidupan orang percaya. Karena itu, setiap keputusan, sikap, dan tindakan kita perlu dibangun di atas nilai-nilai kebenaran-Nya.

Kiranya selagi masih diberi kesehatan, kekuatan, dan kesempatan, kita tidak menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Sebaliknya, kita mengisi hidup ini dengan melakukan kehendak-Nya, bertumbuh dalam kesalehan, mengasihi sesama, dan menjadikan Kristus sebagai Batu Penjuru kehidupan kita.

Kiranya Tuhan memampukan kita untuk hidup dengan menerapkan nilai-nilai kebenaran Kristus sebagai Batu Penjuru. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *