| Renungan hari ini dari bacaan 1 Yohanes 4:7–16; Yohanes 11:19–27 “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh. 4:10). |
Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita kembali kepada dasar iman Kristen: bukan pertama-tama tentang apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Seluruh hidup iman berawal dari kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi, mencari, dan menyelamatkan manusia melalui Putra-Nya, Yesus Kristus.
Santo Yohanes menegaskan, “Allah adalah kasih.” Lalu ia melanjutkan dengan kebenaran yang menjadi fondasi hidup kita: “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Artinya, kasih kita bukanlah usaha untuk memperoleh kasih Allah. Sebaliknya, setiap tindakan kasih yang kita lakukan adalah jawaban atas kasih yang telah lebih dahulu kita terima.
Inilah yang tampak dalam kisah Marta. Di tengah dukanya karena kematian Lazarus, Marta datang kepada Yesus dengan hati yang penuh pertanyaan. Namun, Yesus tidak menolak kelemahannya. Sebaliknya, Ia menyatakan diri-Nya sebagai sumber harapan sejati: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Dalam diri Yesus, Allah sendiri datang menghampiri manusia yang terluka, memasuki penderitaan kita, bahkan menanggung kematian demi membebaskan kita dari kuasa dosa dan maut.
Kasih Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna. Ia mengasihi kita ketika kita masih lemah, berdosa, dan sering kali ragu. Karena kasih-Nya itulah kita diselamatkan. Maka iman Kristen bukan sekadar keyakinan akan kehidupan kekal di masa depan, tetapi perjumpaan dengan Kristus yang hidup sekarang, yang terus tinggal di dalam kita dan menghidupkan kita dengan kasih-Nya.
Namun, kasih yang diterima tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Yohanes berkata bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah. Akan tetapi, ketika kita saling mengasihi, Allah tinggal di dalam kita dan kasih-Nya menjadi nyata di tengah dunia. Dengan demikian, kasih kepada sesama bukan sekadar kewajiban moral, melainkan buah dari iman yang hidup. Orang yang sungguh percaya kepada Kristus akan semakin menyerupai Dia dalam perkataan, sikap, pengampunan, pelayanan, dan kepeduliannya kepada sesama.
Rasul Yakobus mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Karena itu, kasih kepada sesama menjadi bukti nyata bahwa kita sungguh telah mengalami kasih Allah. Kita mengampuni karena Allah telah lebih dahulu mengampuni kita. Kita menghibur karena Allah telah lebih dahulu menghibur kita. Kita melayani karena Kristus lebih dahulu datang untuk melayani dan menyerahkan hidup-Nya bagi keselamatan kita.
Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hidupku sudah menjadi cerminan kasih Allah? Apakah orang-orang yang berjumpa denganku dapat merasakan kasih Kristus melalui kata-kata, perhatian, dan tindakanku?
Semoga setiap hari kita semakin tinggal di dalam kasih Allah, sehingga iman kita tidak hanya diucapkan dengan bibir, tetapi juga dinyatakan melalui perbuatan kasih yang membawa harapan, damai, dan sukacita bagi sesama. Sebab, ketika kasih Allah mengalir melalui hidup kita, dunia dapat melihat bahwa Kristus sungguh hidup dan bekerja di tengah umat-Nya.
