| Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 18:1-6; Matius 13:47-53 “Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel” (Yer. 18:6b) |
Dalam Matius 13:47-53, Yesus mengumpamakan Kerajaan Surga seperti pukat yang menangkap berbagai jenis ikan. Setelah pukat penuh, ikan yang baik dipisahkan untuk disimpan, sedangkan ikan yang tidak baik dibuang. Perumpamaan ini mengingatkan bahwa Tuhan menghendaki setiap orang percaya memiliki kehidupan yang berkenan kepada-Nya.
Untuk memperoleh manusia yang memiliki kehidupan yang berkenan, Tuhan menggunakan proses peremukan. Seperti seorang tukang periuk yang dengan sabar membentuk tanah liat menjadi bejana yang indah, demikian pula Tuhan membentuk kehidupan setiap orang percaya melalui proses yang sering kali tidak mudah. Dalam kitab Yeremia 18:1-6, Tuhan membawa Nabi Yeremia ke rumah tukang periuk agar ia melihat sebuah pelajaran penting. Ketika bejana yang sedang dibentuk rusak di tangan tukang periuk, tanah liat itu tidak dibuang, melainkan dibentuk kembali menjadi bejana lain sesuai dengan kehendaknya.
Proses peremukan manusia batiniah sering kali terjadi melalui kesulitan, penderitaan, kegagalan, penolakan, maupun kehilangan. Pengalaman-pengalaman tersebut bukanlah sesuatu yang menyenangkan, bahkan terkadang membuat kita bertanya mengapa Tuhan mengizinkannya terjadi. Namun, justru melalui tekanan itulah Tuhan menghancurkan kesombongan, ego, dan keinginan daging yang menghalangi pekerjaan-Nya. Peremukan bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita, melainkan bukti bahwa Ia masih bekerja membentuk kita untuk menjadi serupa dengan kehendak-Nya.
Dalam menjalani proses ini, sikap hati sangat menentukan. Banyak orang memperpanjang penderitaannya karena memilih memberontak. Mereka terus mengeluh, menyalahkan keadaan, bahkan mempertanyakan kasih Tuhan. Sikap seperti itu justru membuat proses tersebut menjadi semakin berlarut-larut; semakin panjang. Sebaliknya, ketika seseorang mau melembutkan hatinya dengan belajar tunduk, percaya, dan taat kepada Tuhan, ia akan mengalami pertumbuhan rohani yang lebih cepat. Penyerahan diri membuka ruang bagi Tuhan untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya dengan sempurna.
Selain itu, kita juga jangan berusaha menghindari proses peremukan. Sering kali manusia mencari jalan pintas agar terlepas dari proses peremukan ini, padahal Tuhan sedang memakai keadaan tersebut untuk membentuk karakter. Menghindari proses hanya akan membuat pelajaran yang sama datang kembali dalam bentuk yang berbeda. Tuhan menghendaki kita belajar setia, sabar, dan tetap percaya di tengah kesulitan. Ketika kita memilih bertahan dan berjalan bersama Tuhan, Ia akan memberikan kekuatan untuk melewati setiap tahap pembentukan.
Karena itu, janganlah menjadi takut ketika Tuhan mengizinkan masa-masa yang sulit dalam hidup ini. Ingatlah bahwa di tangan Tukang Periuk Agung, tidak ada tanah liat yang diremukkan tanpa tujuan. Setiap tekanan, air mata, dan penderitaan sedang dipakai Tuhan untuk membentuk manusia batiniah agar semakin serupa dengan Kristus.
Marilah kita menjalani setiap proses dengan hati yang taat, tidak memberontak, dan tidak berusaha menghindarinya. Sebab, melalui peremukan itulah Tuhan mempersiapkan kita menjadi pribadi yang indah, kuat, dan berguna bagi kemuliaan nama-Nya.
