| Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 26:1–9; Matius 13:54–58 “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” (Matius 13:58) |
Seorang teman SMA di daerah asal saya dahulu dikenal sebagai anak yang bermasalah. Ia sering mendapat hukuman dari kepala sekolah, sehingga hampir semua orang mengenalnya sebagai trouble maker. Setelah lulus SMA, ia merantau ke luar daerah dan kami pun kehilangan kabar tentang dirinya.
Sekitar sepuluh tahun kemudian, gereja kami mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Banyak jemaat dari gereja-gereja sekitar hadir. Betapa terkejutnya kami ketika mengetahui bahwa pembicara sekaligus penginjil yang diundang ternyata adalah teman lama kami itu: si trouble maker yang pernah kami kenal.
Sepanjang khotbahnya, kami saling berpandangan. Sulit bagi kami untuk percaya bahwa orang yang dulu sering membuat masalah kini berdiri memberitakan Firman Tuhan. Kami lebih sibuk mengingat masa lalunya daripada mendengarkan pesan yang disampaikannya. Setelah ibadah selesai, hati kami tidak dipenuhi damai atau sukacita. Yang ada justru gerutuan, keraguan, dan kata-kata penghakiman terhadap dirinya. Akibatnya, Firman Tuhan tidak berbuah dalam hidup kami. Mukjizat perubahan hati pun tidak terjadi.
Pengalaman itu mengingatkan saya pada perkataan Tuhan dalam Matius 13:58, “Karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.” Ketidakpercayaan ternyata dapat menjadi penghalang bagi karya Allah dalam hidup manusia. Sering kali kita lebih fokus pada siapa yang menyampaikan Firman daripada Firman itu sendiri. Kita menilai pembawa pesannya berdasarkan masa lalu, latar belakang, atau statusnya, sehingga menutup hati terhadap suara Tuhan yang ingin berbicara melalui dirinya.
Itulah yang terjadi ketika Yesus datang mengajar di Nazaret, kota tempat Ia dibesarkan. Penduduk setempat mengenal-Nya hanya sebagai anak Yusuf, tukang kayu. Mereka juga mengenal ibu, saudara-saudara, dan keluarga-Nya sebagai orang-orang biasa. Karena merasa sudah mengenal asal-usul Yesus, mereka tidak percaya kepada-Nya. Mereka gagal melihat bahwa Allah sedang berkarya melalui Pribadi yang berdiri di hadapan mereka. Akibatnya, mereka menolak Yesus, tidak menerima pengajaran-Nya, dan kehilangan kesempatan mengalami banyak mujizat yang sebenarnya telah Allah sediakan bagi mereka.
Renungan hari ini mengajak kita untuk memeriksa hati. Jangan sampai prasangka, pengalaman masa lalu, atau penilaian manusiawi membuat kita menolak karya Allah. Tuhan dapat memakai siapa saja sebagai alat-Nya, bahkan orang yang dahulu memiliki masa lalu yang kelam. Bukankah kasih karunia Allah sanggup mengubah seorang berdosa menjadi saksi-Nya?
Marilah kita belajar membuka hati terhadap Firman Tuhan, siapa pun yang menyampaikannya. Jangan biarkan ketidakpercayaan menghalangi kita menerima berkat, damai sejahtera, dan mujizat yang Tuhan ingin kerjakan dalam hidup kita. Ketika hati terbuka untuk percaya, kita pun memberi ruang bagi Allah untuk berkarya secara nyata dalam kehidupan kita.
Tuhan Yesus Kristus, berikan kami hikmat, hati yang lembut, rendah hati agar kami bisa hidup kudus, diberkati untuk menjadi berkat bagi sesama. Amin.
