| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 45:1.4-6; Matius 22:15-21 “Beginilah firman TUHAN: “Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Kores yang tangan kanannya Kupegang,supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di hadapannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di hadapannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup” (Yes. 45:1) |
Dunia hari ini sering kali terasa seperti lautan yang diterjang badai tanpa henti. Saat kita membuka berita atau sekadar scroll di medsos, topik yang dikemukakan jarang jauh dari rasa cemas. Kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja; gelombang pemutusan hubungan kerja merajalela, dan mencari lapangan pekerjaan menjadi perjuangan yang kian berat bagi generasi muda maupun mereka yang menopang keluarga. Di tingkat global, ketegangan geopolitik, seperti eskalasi konflik antara Amerika dan Iran, menimbulkan guncangan nyata pada pasokan energi dunia, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok di piring makan kita sehari-hari.
Tak berhenti di situ, alam pun seolah ikut menguji ketahanan manusia. Fenomena iklim El Niño membawa kekeringan berkepanjangan di berbagai daerah, memukul sektor pertanian, memicu gagal panen, dan memperlangka ketersediaan pangan. Dampak ekonominya langsung menghantam masyarakat kecil yang harus merogoh kocek lebih dalam demi kebutuhan dasar. Di tengah tumpukan persoalan ekonomi, politik, dan bencana alam ini, wajar jika timbul pertanyaan ragu dalam hati: Masih adakah yang memegang kendali atas semua ini?
Melalui Firman Tuhan dalam Yesaya 45:1. 4–6 dan Matius 22:15–21, kita diingatkan akan sebuah kebenaran fundamental: Tuhan memegang kendali penuh atas sejarah dan kehidupan manusia. Dalam kitab Yesaya, Allah memilih dan mengurapi Raja Kores, seorang raja Persia yang bahkan tidak mengenal-Nya, untuk menggenapi pembebasan bagi umat-Nya. Ini mengajar kita bahwa tidak ada penguasa, sistem ekonomi, maupun kekuatan geopolitik di bumi ini yang berada di luar jangkauan tangan Tuhan. Allah adalah satu-satunya Tuhan; tidak ada yang lain di luar Dia dari terbitnya matahari sampai terbenamnya.
Sementara itu, dalam Injil Matius, ketika orang Farisi mencoba menjebak Yesus dengan isu pajak dan kekuasaan Kaisar Roma, Yesus merespons dengan hikmat yang melampaui logika dunia: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Yesus mengajarkan bahwa meskipun kita harus hidup bertanggung jawab di tengah aturan duniawi, kesetiaan dan penyerahan hidup kita yang tertinggi tetap milik Allah. Dunia boleh menuntut uang atau kewajiban kita, tetapi jiwa dan masa depan kita ada dalam genggaman Sang Pencipta yang melukiskan gambar-Nya pada diri kita.
Di tengah situasi yang tidak menentu ini, kita tidak dipanggil untuk menyerah pada ketakutan atau bersikap acuh tak acuh. Kita dipanggil untuk terus melangkah dengan percaya. Marilah kita datang kepada Tuhan, memohon hikmat dan kebijaksanaan Ilahi agar kita mampu mengelola setiap sumber daya dengan bijak, melihat peluang di tengah kesempitan, dan tetap menjadi saksi kasih-Nya. Ketika mata kita tertuju pada gelombang kehidupan, kita akan tenggelam; namun ketika mata kita tertuju pada Sang Penguasa Semesta, kita akan menemukan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Tetaplah percaya, sebab hidup kita, ekonomi kita, dan masa depan kita berada sepenuhnya dalam kendali Allah yang hidup.
