| Renungan hari ini dari bacaan Efesus 2:1–10; Lukas 12:13–21 “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Luk. 12:21). |
Persoalan seputar warisan dan penimbunan harta kekayaan kian marak terjadi di sekitar kita. Ketidakadilan dalam pembagian harta sering memutus tali persaudaraan. Keserakahan menumbuhkan gaya hidup hedonis, memicu korupsi bernilai fantastis, bahkan menuntun pada tragedi pembunuhan antaranggota keluarga demi menguasai hak orang lain. Manusia terjebak hingga mendewakan materi. Melihat kenyataan getir ini, sebuah pertanyaan mendasar muncul dalam benak kita: untuk apa kita mengumpulkan harta berlimpah jika pada akhirnya tidak dapat kita bawa mati? Apakah harta menjamin kebahagiaan sejati?
Tuhan Yesus memperingatkan bahaya ini melalui perumpamaan orang kaya yang bodoh dalam Lukas 12:13–21. Ketika tanahnya menghasilkan panen berlimpah ruah, ia sibuk merombak lumbungnya menjadi lebih besar demi menimbun segala kekayaannya. Ia kemudian merasa aman dan berkata kepada jiwanya: “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Luk. 12:19). Namun, tepat pada malam itu juga, Allah menuntut jiwanya. Harta melimpah yang ia kumpulkan seketika menjadi sia-sia karena ia meninggalkannya begitu saja di dunia tanpa menjadi kaya di hadapan Allah.
Mengejar harta duniawi semata adalah kesia-siaan karena sifatnya yang fana. Firman Tuhan menegaskan: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19). Lebih dari itu, kekayaan materi sama sekali tidak berkuasa menebus jiwa kita dari hukuman dosa. Keselamatan kita seutuhnya bersumber dari anugerah ilahi: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Efesus 2:8). Pengorbanan Kristus di kayu salib telah membebaskan kita, dan respons terbaik kita adalah mengarahkan pandangan kepada keabadian: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).
Dalam ziarah mencari Kerajaan Allah itulah kita dipanggil untuk mengumpulkan berkas-berkas tuaian kekal sebagai harta surgawi (Yoh. 4:36). Sebagai murid Kristus, hati kita hendaknya menjadi tanah subur yang menyerap benih firman, bertumbuh rimbun, dan berbuah lebat (Luk. 8:15). Wujud pertobatan dan rasa syukur kita atas anugerah penebusan diwujudkan melalui perbuatan-perbuatan baik yang memuliakan Bapa.
Harta surgawi yang sejati tidak disimpan di dalam lumbung fisik, melainkan termanifestasi nyata melalui buah Roh: “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan” (Gal. 5:22). Di sepanjang pengembaraan hidup di dunia, marilah kita senantiasa menghadirkan damai, kebaikan, serta kepedulian bagi sesama. Melalui pertolongan Roh Kudus, biarlah hidup kita dipenuhi ketaatan, ibadah yang tulus, dan kesetiaan penuh kepada Tuhan.
Tuhan Yesus Kristus, anugerahkanlah hikmat kepada kami agar melalui pertolongan Roh Kudus, kami senantiasa dimampukan untuk mengumpulkan buah-buah Roh sebagai harta surgawi. Kiranya seluruh persembahan syukur dan perbuatan hidup kami berkenan di hadapan-Mu. Demi nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
