| Renungan hari ini dari bacaan Efesus 2:12-22; Lukas 12:35-38. “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka” (Luk. 12:37). |
Menjelang akhir tahun, sering kita mendengar pembicaraan tentang rencana jelang penutupan tahun dan resolusi untuk tahun depan, atau bahkan beberapa tahun yang akan datang. Mungkin ada yang berkaitan dengan pendidikan, tempat tinggal, kesehatan, pekerjaan, traveling, keluarga, usaha baru, relasi bisnis atau apa pun. Pada umumnya orang membuat rencana untuk hal-hal yang diharapkan akan dicapai dan akan dilaksanakannya di masa depan. Ada yang memikirkan hal-hal pokok saja, tapi ada yang dengan detail membuat perencanaan dengan mempertimbangkan berbagai tantangan dan halangan yang mungkin akan dihadapi, berikut dengan alternative rencana untuk mengatasinya. Dalam perencanaan sering kita dengar istilah ‘worse case scenario’ atau alternatif rencana dalam menghadapi kemungkinan yang terburuk.
Hal yang serupa juga sebenarnya dapat diterapkan dalam kehidupan iman kita. Setiap akhir tahun, selalu ada permenungan atas apa yang sudah lewat dan rencana resolusi untuk tahun yang akan datang. Orang percaya diharapkan untuk senantiasa bertumbuh imannya dan berbuah dalam tindakan yang nyata. Tujuan akhir orang beriman dalam Kristus, tentunya, untuk memperoleh hidup kekal bersama Allah Bapa di surga. Pengharapan akhir iman kita, tentunya, dipersatukan dengan orang yang kita kasihi dan juga dengan para kudus di surga. Namun, hanya yang telah bersih dari dosa yang dapat masuk ke dalamnya. Dan, permasalahannya adalah kita tidak pernah tahu kapan waktunya kita dipanggil Tuhan, untuk meninggalkan kehidupan di dunia ini. Kondisi terburuk (worse case) yang mungkin terjadi adalah kita dipanggil saat kondisi kehidupan iman kita tidak dalam keadaan baik. Maka bagaimana kita menghadapi ‘worse case scenario’ tersebut?
Dalam Injil Lukas, Yesus menjelaskan situasinya dalam perumpamaan para hamba yang menunggu tuannya pulang dari perkawinan. Mereka diharapkan siap menyongsong tuannya itu pulang dengan pelita menyala. Permasalahannya, hamba-hamba itu tidak tahu kapan waktunya tuan itu akan datang. Sikap yang terbaik yang dapat dilakukan oleh para hamba itu adalah senantiasa menjaga supaya pinggangnya tetap terikat dan berupaya supaya pelitanya tetap menyala (Luk. 11:35). Yesus mengatakan bahwa para hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang, patutlah berbahagia. Karena, tuannya itu akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan dan ia akan datang melayani mereka (Luk. 12:37).
Pinggang terikat dan pelita yang menyala melambangkan sinar-sinar kehidupan iman kita yang nyata setiap saat. Alangkah berbahagianya ketika kita berpulang dalam kondisi kehidupan iman yang baik. Maka senantiasa berupaya mewujudkan iman dalam tindakan yang nyata adalah hal yang baik dilakukan, sebagai tindakan berjaga-jaga. Seorang guru agama saya pernah memberi nasihat bahwa ada baiknya setiap malam kita selalu siap berpulang. Karena itu, dalam doa malam kita bersyukur atas satu hari yang diberikan untuk menjadi lebih baik dalam iman, memperbaiki diri dan memohon ampun atas segala kesalahan, supaya kita dapat beristirahat dengan tenang. Teratur berintrospeksi dan menerima sakramen Pengakuan Dosa juga menjadi bagian rencana menghadapi ‘worse case scenario’, agar selalu siap dipanggil pulang oleh Allah.
