| Renungan hari ini dari bacaan Efesus 3:2-12; Lukas 12:39-48. “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Luk. 12:48). |
Ada kecenderungan manusia yang menarik dalam penelitian psikologi modern: ketika seseorang memperoleh jabatan, kedudukan, atau kekuasaan, cara ia memandang dirinya sendiri dapat ikut berubah. Orang yang merasa memiliki kuasa cenderung terlalu percaya diri terhadap keputusan pribadinya. Kepercayaan sering kali membuat seseorang mulai merasa lebih mampu, lebih penting, atau lebih istimewa daripada orang lain.
Bacaan suci hari ini mengajak kita memandang kepercayaan (trust) dari sudut pandang berbeda. Dalam Injil, Petrus bertanya kepada Yesus: “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” (Luk. 12:41). Pertanyaan ini muncul setelah Yesus mengingatkan para murid untuk selalu berjaga-jaga menantikan kedatangan Anak Manusia.
Yesus tidak menjawab secara langsung apakah ajaran itu khusus untuk murid-murid atau semua orang. Sebaliknya, Ia menceritakan perumpamaan tentang pengurus rumah yang diberi kepercayaan oleh tuannya. Yesus mengalihkan perhatian Petrus dari pertanyaan tentang siapa yang menerima kepercayaan, menuju hal yang jauh lebih penting: bagaimana menjalankan kepercayaan itu.
Seorang pengurus rumah tidak otomatis menjadi istimewa karena kedudukannya. Ia disebut setia dan bijaksana jika menjalankan tugasnya dengan benar, bahkan saat tuannya tidak ada. Sebaliknya, pengurus yang merasa berkuasa lalu menyalahgunakan wewenang untuk menindas sesama akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, Yesus menegaskan: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Luk. 12:48).
Kita pun menerima berbagai kepercayaan dari Allah. Sebagai orang tua, kita dipercayakan anak-anak untuk dibesarkan dalam kasih. Sebagai pemimpin, kita dipercayakan sesama untuk dibimbing. Sebagai pejabat, ada amanat kesejahteraan masyarakat. Bahkan sebagai warga Gereja, kita menerima anugerah iman dan kesempatan melayani.
Pertanyaannya: apa yang sudah kita lakukan dengan semua kepercayaan itu? Apakah kedudukan dipakai untuk melayani atau justru menuntut dilayani? Apakah pengetahuan iman membuat kita rendah hati atau malah merasa lebih suci? Apakah berkat melimpah mendorong kita bermurah hati atau semakin serakah mengumpulkannya bagi diri sendiri?
Bacaan Pertama memberi teladan nyata melalui Rasul Paulus. Dalam Efesus 3:2–12, Paulus menyadari anugerah besar yang dipercayakan kepadanya, yakni mewartakan rahasia keselamatan dalam Kristus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Keselamatan bukan monopoli satu kelompok, melainkan anugerah bagi semua orang.
Paulus tidak membusungkan dada. Ia justru menyebut dirinya yang paling hina di antara segala orang kudus. Baginya, semakin besar rahmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab pelayanan yang harus diemban. Pewahyuan ilahi tidak ia simpan sebagai kebanggaan pribadi, melainkan diwartakan bagi sesama.
Inilah pesan kunci bagi hidup beriman: orang yang sungguh mengenal Allah tidak akan memakai anugerah-Nya untuk meninggikan diri, melainkan untuk melayani. Berjaga-jaga bukan berarti hidup dicekam ketakutan akan hari penghakiman, melainkan menjalani keseharian dengan penuh kesetiaan.
Ketika orang tua mendampingi anak dengan sabar, ia sedang berjaga-jaga. Ketika pemimpin bertindak adil, pengusaha memedulikan karyawan, atau pelayan Gereja melayani tanpa mencari pujian, mereka sedang berjaga-jaga. Saat kita memakai karunia untuk menghadirkan kasih Kristus, kita sedang menjadi pengurus yang setia dan bijaksana.
Tuhan tidak mengukur seberapa banyak yang kita terima, melainkan bagaimana kita menggunakannya. Semoga kita meneladani Paulus, yang memandang anugerah bukan sebagai alasan menyombongkan diri, melainkan sebagai panggilan melayani. Sebab ukuran kebesaran seorang murid Kristus bukanlah besarnya kepercayaan yang ia terima, melainkan kesetiaannya dalam menjalankan kepercayaan itu.
