| renungan hari ini dari bacaan Kebijaksanaan Salomo 2:1a. 12-22; Yohanes 7:1-2. 10. 25-30 “Waktu itu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: ‘Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku. Namun, Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal.” (Yoh. 7:28). |
Mengapa banyak orang begitu sulit untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias, padahal kedatangan-Nya sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama? Ketika orang-orang Yerusalem melihat Yesus mengajar di Bait Allah, mereka mulai bertanya-tanya, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh?” Mereka merasa bingung melihat Yesus berbicara secara terang-terangan tanpa ada pemimpin yang berani menangkap-Nya, hingga muncul dugaan bahwa para pemimpin tersebut mungkin sudah tahu bahwa Ia adalah Mesias (ay. 25-26).
Banyak orang Yahudi pada masa itu menolak Yesus karena mereka merasa sudah mengetahui asal-usul-Nya sebagai manusia. Mereka tidak menyadari bahwa Yesus diutus oleh Bapa, sebab mereka sendiri sebenarnya tidak mengenal Allah. Yesus menegaskan hal ini saat mengajar di Bait Allah dengan berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku. Namun, Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal” (ay. 28). Ketidaktahuan akan Allah Bapa inilah yang menghalangi mereka untuk percaya kepada Yesus. Sebab, hanya Yesuslah yang mengenal Bapa, “Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku”(ay. 29).
Sering kali dalam kehidupan sehari-hari, kita juga merasa sudah mengenal seseorang hanya dari lahiriahnya saja. Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan beriman kita. Kita mungkin merasa sudah mengenal Yesus karena rajin ke gereja, aktif melayani, membaca Kitab Suci, atau mengikuti berbagai kegiatanrohani. Namun, ketika badai masalah datang membawa penderitaan dan kesedihan, terkadang iman kita mulai meragukan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.
Injil hari ini mengingatkan kita bahwa untuk benar-benar mengenal Yesus, kita harus mengenal Bapa yang mengutus-Nya. Untuk mengenal Yesus secara benar, kita tidak cukup hanya melihat sisi lahiriah-Nya, tetapi perlu masuk dalam relasi dengan Allah sendiri. Iman bukan sekadar pengetahuan, melainkan hubungan.
Masalahnya, apakah kita sungguh percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa dan diutus ke dunia untukmembawa keselamatan? Ataukah kita masih menilai-Nya hanya dengan cara pandang manusiawi kita yang terbatas?
Ada satu hal penting lainnya yang disampaikan Injil hari ini: meskipun orang-orang ingin menangkap Yesus, mereka tidak dapat melakukannya karena “saat-Nya belum tiba” (ay. 30). Hal ini menunjukkan bahwa hidup Yesus sepenuhnya berada dalam rencana Allah, bukan dalam kendali manusia. Tidak ada kekuatan manusia yang sanggup menggagalkan rencana Allah.
Hal ini menjadi penghiburan besar bagi kita. Hidup kita pun ada dalam tangan Tuhan. Ada kalanya kita menghadapi situasi yang terasa di luar kendali, kejahatan atau kesulitan seakan jauh lebih kuat dari diri kita. Namun, firman Tuhan menegaskan: tidak ada satu pun yang terjadi di luar waktu dan rencana-Nya. Karena itu, kita dipanggil untuk percaya bahwa “waktu Tuhan” sedang bekerja, dan tidak buru-buru meragukan kepedulian-Nya.
Marilah kita belajar mengenal Yesus secara pribadi, bukan hanya melalui kebiasaan religious, melainkan dengan meluangkan waktu untuk berdoa dengan jujur: bukan hanya berbicara, melainkan juga mendengarkan Dia.




