Allah Sumber Hikmat ( 13 November 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Kebijaksanaan Salomo 7:22 – 8:1; Lukas 17:20–25. “Di dalam hikmat ada roh yang cerdas dan kudus, tunggal, majemuk, dan halus, mudah bergerak, jernih dan tidak bernoda, terang, tanpa cacat, suka akan yang baik, dan tajam” (Ken. 7:22)

Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali mencari hikmat, kebijaksanaan, untuk memahami jalan yang harus ditempuh, keputusan yang harus diambil, dan makna di balik setiap peristiwa. Banyak orang mencarinya melalui pengalaman, pengetahuan, atau nasihat sesama manusia. Namun, Kitab Kebijaksanaan mengingatkan bahwa sumber sejati dari segala hikmat adalah Allah sendiri. Hikmat bukan sekadar hasil kecerdasan manusia, melainkan pancaran Roh Allah yang kudus dan murni, yang bekerja dalam hati mereka yang terbuka bagi-Nya.

Dalam Kebijaksanaan 7:22–8:1, penulis menggambarkan hikmat sebagai “roh yang berakal budi, kudus, tunggal, lembut, gesit, suci, jernih.” Hikmat Allah tidak terbatas. Hikmat Allah tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga membawa harmoni, kedamaian, dan keadilan. Hikmat Allah memampukan manusia melihat dari sudut pandang-Nya, melampaui apa yang tampak, menembus segala rahasia kehidupan.

Namun, sering kali manusia lebih mengandalkan kebijaksanaannya sendiri. Kita tanpa menyadari atau terbiasa untuk berpikir bahwa dengan pengalaman, kepandaian, dan logika, bisa mengatur hidup sebaik mungkin. Akan tetapi, tanpa hikmat Allah, segala upaya itu bisa menjadi sia-sia belaka. Hikmat manusia terbatas, sedangkan hikmat Allah kekal dan menuntun kepada kebenaran sejati. Ketika belajar berserah dan memohon hikmat dari Allah, kita diajak untuk hidup selaras dengan kehendak-Nya, bukan sekadar menjadi pintar, tetapi bijaksana dalam kasih dan kebenaran.

Dalam Injil Lukas 17:20–25, Yesus mengingatkan orang-orang Farisi bahwa Kerajaan Allah tidak datang dengan tanda-tanda lahiriah yang bisa dilihat, sebab Kerajaan Allah sudah ada di antara mereka. Hikmat Allah mengajarkan untuk tidak hanya mencari hal-hal besar yang tampak di mata dunia, namun belajar menyadari kehadiran Allah yang bekerja secara halus dan tersembunyi di dalam hati manusia. Hikmat membuat kita peka terhadap karya Allah yang hadir dalam keseharian, dalam kesabaran, pengampunan, ketekunan, dan pelayanan yang tulus.

Yesus juga menegaskan bahwa Anak Manusia akan datang dengan kemuliaan-Nya, tetapi banyak orang tidak akan menyadari karena hati mereka tertutup. Hanya orang yang memiliki hikmat dari Allah yang mampu mengenali tanda-tanda kehadiran-Nya, bahkan di tengah-tengah penderitaan dan penantian.

Oleh sebab itu, mari kita senantiasa memohon hikmat dari Allah agar mampu melihat dan memahami segala sesuatu sesuai dengan rencana-Nya. Hikmat Allah tidak hanya menuntun pikiran, tetapi juga membentuk hati yang taat dan kerendahan hati. Dengan mengandalkan hikmat Allah, kita dapat menjalani hidup dengan damai, membuat keputusan dengan bijak, dan tetap setia dalam iman, meskipun dunia di sekitar kita terus berubah.

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *