| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 6:8-15 ; Yohanes 6:22-29 “Lalu mereka mempengaruhi beberapa orang untuk mengatakan, “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah.” (Kis. 6:11) |
Dalam kehidupan sehari-hari, menyatakan kebenaran bukanlah hal yang selalu mudah. Ada kalanya kebenaran justru menempatkan seseorang dalam posisi yang sulit, bahkan berisiko. Tekanan dari lingkungan, keinginan untuk diterima, atau rasa takut akan konsekuensi sering membuat orang memilih diam atau bahkan mengaburkan kebenaran.
Dalam Kisah Para Rasul 6:8-15, kita melihat teladan Stefanus, seorang yang penuh iman dan kuasa. Ia melakukan tanda-tanda dan mukjizat di antara orang banyak, tetapi juga menghadapi perlawanan yang kuat. Orang-orang yang tidak mampu melawan hikmatnya kemudian menggunakan cara-cara licik: mereka memutarbalikkan fakta dan menghadirkan saksi palsu untuk menjatuhkannya. Dalam situasi seperti itu, Stefanus memiliki pilihan: diam demi keselamatan diri atau tetap berdiri dalam kebenaran. Ia memilih untuk tetap setia, tidak mundur, dan tidak menyangkal apa yang benar.
Keberanian Stefanus menunjukkan bahwa menyatakan kebenaran bukan sekadar soal kata-kata, tetapi juga tentang sikap hati. Ia tidak membela diri dengan kemarahan atau kebencian, melainkan dengan keteguhan iman dan damai sejahtera.
Dalam Yohanes 6:22-29, Yesus juga menyatakan kebenaran dengan tegas kepada orang banyak. Mereka datang kepada-Nya bukan karena mengerti makna mukjizat, melainkan karena ingin kembali dipuaskan secara jasmani. Yesus tidak mengikuti keinginan mereka atau mengatakan apa yang menyenangkan telinga mereka. Sebaliknya, Ia menegur dan mengarahkan mereka kepada kebenaran yang lebih dalam: untuk bekerja bagi makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal. Perkataan ini mungkin tidak mudah diterima, tetapi itulah kebenaran yang harus disampaikan.
Dari kedua bagian firman ini, kita belajar bahwa menyatakan kebenaran sering kali menuntut keberanian untuk berbeda. Dunia cenderung mendorong kita untuk mencari aman, menghindari konflik, dan mengikuti arus. Namun, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam, yang berarti berani berdiri di pihak kebenaran meskipun tidak populer.
Dalam praktiknya, keberanian ini bisa terlihat dalam hal-hal sederhana: berkata jujur ketika orang lain memilih berbohong, menegur dengan kasih ketika melihat kesalahan, atau tetap memegang prinsip meskipun harus menanggung risiko. Memang, tidak semua orang akan menerima kebenaran dengan baik. Ada yang menolak, bahkan memusuhi. Tetapi, kebenaran tetaplah kebenaran, dan tugas kita adalah menyatakannya dengan kasih dan hikmat.
Akhirnya, keberanian untuk menyatakan kebenaran bukanlah soal kekuatan pribadi, melainkan tentang ketergantungan kepada Tuhan. Ketika kita hidup dekat dengan-Nya, Ia akan memberi kita keberanian, hikmat, dan ketenangan hati dalam menghadapi setiap situasi. Marilah kita belajar dari Stefanus dan Yesus: berani berkata benar, tetap setia, dan tidak kompromi, apa pun konsekuensinya. Sebab, di dalam kebenaran, ada kehidupan yang sejati dan berkenan kepada Tuhan.
