Check Up Rohani ( 27 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan 1 Tesalonika 2:9-13 & Matius 23:27-32. “Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” (Matius 23:28)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar anjuran untuk melakukan medical check up. Tujuannya sederhana: mendeteksi sedini mungkin apakah ada penyakit tersembunyi yang tidak terlihat dari luar. Kadang-kadang, tubuh terlihat sehat, tetapi setelah diperiksa, barulah diketahui ada gangguan yang serius.

Demikian pula halnya dengan kehidupan rohani. Ada kalanya secara lahiriah tampak baik, saleh, bahkan penuh pengabdian.
Namun, apakah setiap perkataan dan perbuatan yang dilakukan untuk mencari penghargaan atau penghormatan di hadapan manusia?
Apakah hati dan pikiran kita sungguh murni di hadapan Allah?
Untuk itulah kita perlu melakukan check up rohani yang dapat menguji diri, apakah masih ada kemunafikan yang bersembunyi dalam pikiran dan perbuatan kita.

Dalam 1 Tesalonika 2:9-13, Paulus menegaskan bahwa pelayanan yang ia lakukan bersama rekan-rekannya bukanlah dengan maksud menipu atau mencari keuntungan, melainkan murni untuk memberitakan Injil Allah. Ia bekerja keras siang dan malam, agar jangan sampai menjadi beban bagi jemaat. Paulus menunjukkan ketulusan: perkataan dan perbuatannya selaras. Ia hidup dalam kesaksian nyata, bukan sekadar kata-kata manis. Hal ini menjadi teladan bahwa murid Kristus dipanggil untuk hidup apa adanya, tidak berpura-pura, dan integritasnya terlihat oleh orang di sekelilingnya.

Dalam Matius 23:27-32, Yesus menegur keras orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang tampak benar di luar, tetapi di dalamnya penuh kemunafikan dan kejahatan. Yesus mengibaratkan mereka seperti kuburan yang dilabur putih: indah di luarnya, tetapi di dalamnya penuh dengan tulang belulang. Teguran ini menjadi cermin bagi kita: jangan-jangan sibuk menampilkan citra baik di hadapan manusia, namun di baliknya menyembunyikan pikiran dan motivasi yang salah. Kemunafikan ibarat penyakit rohani yang berbahaya. Ia sering tidak terlihat, tetapi perlahan merusak hati dan menjauhkan diri dari kebenaran Allah.

Karena itu, check up rohani menjadi sangat penting. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah perkataan saya selaras dengan tindakan saya? Apakah ibadah yang dilakukan sungguh karena kasih kepada Allah, atau hanya untuk memperoleh puji orang?
Apakah pelayanan saya didorong oleh kerinduan membawa jiwa kepada Tuhan, atau sekadar mencari pengakuan? Pertanyaan-pertanyaan ini ibarat alat diagnostik yang menyingkap kondisi batiniah kita.

Kemunafikan tidak selalu terlihat atau tampak besar dan mencolok. Ia bisa hadir dalam hal-hal kecil: ketika mengucapkan kata-kata manis padahal hati menyimpan kebencian; ketika menolong namun diam-diam ingin dihargai; ketika tampak tekun berdoa, tetapi pikiran sebenarnya jauh dari Allah. Inilah yang harus dideteksi dan bersihkan. Sebab, Tuhan melihat bukan hanya yang tampak di luar, melainkan juga apa yang tersembunyi di dalam hati.

Melalui firman ini, mari kita belajar untuk hidup dalam ketulusan. Paulus mengingatkan bahwa Injil harus diterima bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagai firman Allah yang bekerja di dalam hati.
Dan Yesus memperingatkan bahwa kemunafikan, betapapun tersembunyi, tidak akan luput dari pandangan Allah. Oleh sebab itu marilah kita melakukan check up rohani setiap hari, memohon Roh Kudus menyingkap setiap kepalsuan dalam diri masing-masing agar kita semakin murni, jujur, dan tulus di hadapan-Nya.

Seperti tubuh yang sehat membuat hidup bermakna. Demikian juga dengan semakin memiliki sikap hati yang tulus menjadikan hidup kita semakin berkenan di hadapan Allah. Amin.

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *