| Renungan hari ini dari bacaan 2 Raja-raja 25:1-12; Matius 8:1-4 “Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata: ‘Aku mau, jadilah tahir.’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari sakit kulitnya” (Mat. 8:3). |
Ada kalanya hidup terasa seperti kota Yerusalem dalam bacaan pertama hari ini. Sesuatu yang telah kita bangun dengan susah payah tiba-tiba runtuh. Hubungan yang selama ini baik menjadi retak, kesehatan menurun, usaha mengalami kesulitan, atau hati terluka karena kekecewaan. Pada saat-saat seperti itu, kita mungkin bertanya, “Tuhan, di manakah Engkau?”
Dalam 2 Raja-raja 25:1-12, Yerusalem mengalami kehancuran yang sangat menyedihkan. Kota dibakar, tembok-tembok diruntuhkan, dan rakyat dibawa ke pembuangan. Peristiwa itu bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akibat dari ketidaksetiaan bangsa Israel yang berulang kali menjauh dari Tuhan. Mereka menuai kehancuran yang sebenarnya telah lama diperingatkan oleh para nabi.
Namun, Injil hari ini memperlihatkan sisi lain dari hati Allah: hati yang selalu rindu memulihkan. Seorang penderita penyakit kulit datang kepada Yesus dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Pada masa itu, orang yang menderita penyakit seperti kusta hidup dalam kesepian dan keterasingan. Ia dijauhi, dianggap najis, dan tidak diterima dalam kehidupan masyarakat. Kehidupan yang demikian tentu merupakan kehancuran yang mendalam, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin dan sosial.
Yang mengharukan, Yesus tidak banyak bertanya dan tidak menjaga jarak. Ia justru mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, lalu berkata, “Aku mau, jadilah tahir.” Seketika itu juga orang itu menjadi sembuh. Yesus tidak hanya menunjukkan belas kasihan melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Itulah kasih yang sesungguhnya: kasih yang berani mendekat, menyentuh, dan memulihkan.
Melalui kedua bacaan hari ini, kita belajar bahwa Allah tidak senang melihat manusia hidup dalam kehancuran. Memang dosa dan ketidaksetiaan dapat membawa akibat yang menyakitkan, seperti yang dialami Yerusalem. Namun, kasih Allah selalu lebih besar daripada kehancuran itu. Ketika manusia datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan iman, Tuhan membuka jalan menuju pemulihan.
Sering kali kita merasa seperti Yerusalem yang runtuh atau seperti orang kusta yang tersingkir. Kita membawa luka, penyesalan, kegagalan, kekecewaan, bahkan dosa yang membuat kita merasa tidak layak datang kepada Tuhan. Akan tetapi, Injil hari ini mengingatkan bahwa Yesus tidak pernah menolak siapa pun yang datang kepada-Nya. Ia tidak hanya melihat luka kita, tetapi juga kemungkinan baru yang dapat lahir melalui kasih dan kuasa-Nya.
Mungkin Tuhan tidak selalu mengubah keadaan kita seketika. Tidak semua masalah langsung selesai, tidak semua penderitaan segera berakhir. Namun, Tuhan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk menguatkan, menyembuhkan, dan membangun kembali hidup yang terasa runtuh. Yang Ia kehendaki hanyalah hati yang mau datang kepada-Nya dengan rendah hati dan penuh kepercayaan.
Karena itu, marilah kita juga belajar menjadi alat pemulihan bagi sesama. Di sekitar kita ada banyak orang yang merasa tersingkir, terluka, dan kehilangan harapan. Barangkali mereka membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, menghibur, atau sekadar hadir dengan penuh kasih. Seperti Yesus yang berani menjamah orang kusta, kita pun dipanggil untuk menghadirkan kasih Allah melalui tindakan nyata.
Hari ini, marilah kita membawa segala dosa, kehancuran, kekecewaan, dan kelemahan kita kepada Yesus. Seperti orang sakit itu, marilah kita berkata dengan iman dan kerendahan hati,“Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat memulihkan aku.” Percayalah, Tuhan yang sama masih berkata kepada kita hari ini: “Aku mau.”
Tuhan Yesus memberkati.
