| Renungan hari ini dari bacaan Wahyu 11:19a. 12:1. 3-6a. 10ab; Lukas 1:39-56 |
Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati kemerdekaan Indonesia. Kita mengingat perjuangan panjang para pahlawan yang dengan keberanian dan pengorbanan merebut kemerdekaan dari penjajahan. Kemerdekaan itu sangat berharga karena memberikan kesempatan untuk hidup sebagai bangsa yang bebas dan menentukan arah kehidupan kita sendiri.
Namun, firman Tuhan mengajak kita untuk melihat kemerdekaan dari sudut pandang yang lebih dalam. Apakah seseorang sungguh-sungguh merdeka hanya karena tidak lagi dijajah oleh bangsa lain?
Belum tentu…
Seseorang dapat hidup di negeri yang merdeka, tetapi hatinya masih terbelenggu oleh dosa.
Dalam bacaan Wahyu, digambarkan tentang pergumulan antara kuasa Allah dan kuasa kejahatan. Ada ancaman dan penderitaan, tetapi pada akhirnya terdengar pengakuan bahwa keselamatan, kuasa, dan pemerintahan adalah milik Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kejahatan memang nyata dan dapat menekan kehidupan manusia, tetapi kejahatan bukanlah penguasa terakhir. Allah tetap berdaulat.
Demikian pula dalam Injil Lukas, Maria menyatakan bahwa Allah melakukan perbuatan besar.
Dari kedua bacaan ini kita menemukan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya persoalan siapa yang menguasai tubuh kita, tetapi siapa yang menguasai hati kita.
Kita mungkin tidak lagi hidup di bawah penjajahan, tetapi bisa saja hati masih dijajah oleh kebencian. Kita mungkin bebas menentukan pilihan, tetapi pilihan dapat dikendalikan oleh keserakahan. Kita mungkin bebas berbicara, tetapi perkataan dapat menjadi alat untuk menyakiti dan merendahkan orang lain. Kita mungkin memiliki kebebasan untuk mengejar kekayaan dan kesuksesan, tetapi tanpa sadar justru menjadi hamba uang, jabatan, gengsi, atau keinginan diri sendiri.
Inilah bentuk penjajahan yang sering tidak kita sadari: penjajahan dosa.
Dosa membuat manusia kehilangan kebebasan untuk menjadi dirinya sebagaimana yang Allah kehendaki. Ketika seseorang dikuasai oleh kebencian, ia sulit mengampuni. Ketika dikuasai iri hati, ia sulit bersyukur. Ketika dikuasai kesombongan, ia sulit mengakui kesalahan. Ketika dikuasai keserakahan, ia tidak pernah merasa cukup. Secara lahiriah ia mungkin bebas, tetapi secara batin ia terikat.
Karena itu, kemerdekaan yang diberikan Kristus jauh lebih dalam. Kristus tidak sekadar membebaskan manusia dari keadaan tertentu, tetapi membebaskan manusia dari kuasa dosa supaya manusia dapat kembali hidup dalam hubungan yang benar dengan Allah.
Orang yang merdeka di dalam Kristus bukanlah orang yang berkata, “Saya bebas melakukan apa saja.” Sebaliknya, ia berkata, “Saya bebas untuk memilih yang benar.” Bebas untuk mengasihi ketika orang lain membenci. Bebas untuk mengampuni ketika hati terluka. Bebas untuk berkata jujur ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan. Bebas untuk berbagi ketika keserakahan mengajak kita mengambil lebih banyak. Bebas untuk melayani ketika ego ingin dilayani.
Di sinilah kemerdekaan iman bertemu dengan kemerdekaan bangsa. Jika kita sungguh-sungguh bersyukur atas kemerdekaan Indonesia, maka kemerdekaan itu harus terlihat dalam cara kita hidup.
Kemerdekaan sejati harus menghasilkan kehidupan yang merdeka untuk melakukan kebaikan.
Maka, perayaan kemerdekaan bukan hanya kesempatan untuk mengenang masa lalu, tetapi juga kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: “Apakah saya sungguh-sungguh sudah merdeka?” Apakah masih ada dosa yang menguasai hidup saya? Apakah ada kebencian yang belum saya lepaskan? Apakah ada keserakahan yang mengikat saya? Apakah ada kesombongan yang membuat saya jauh dari Tuhan dan sesama?
Kiranya melalui Kristus, kita mengalami kemerdekaan …

satu Respon
Bài chia sẻ chất lượng. Ai đang tìm hiểu du học Hàn Quốc có thể liên hệ Letco — hỗ trợ chọn ngành, học bổng và thủ tục visa nhanh gọn. Chi tiết ở letco.vn.