| Renungan hari ini dari bacaan 2 Raja-raja 17: 5-8.13-15a.18; Matius 7:1-5 “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat. 7:3) |
Dunia hari ini dipenuhi oleh “hakim-hakim” tanpa jubah. Di media sosial, televisi, hingga meja makan keluarga, kita sangat fasih menunjuk kesalahan orang lain. Kita hidup dalam epidemi hiperkritis, di mana menghakimi telah menjadi hobi harian yang merusak relasi.
Jika kita melihat situasi global hari ini, konflik antarnegara, ketegangan antaragama, hingga perpecahan di dalam komunitas gereja sering kali berakar dari satu hal: ketidakmampuan untuk berkaca. Para pemimpin dunia dan pemuka agama terjebak dalam kesalehan luar, sibuk mengecam “selumbar” dosa kelompok lain, namun buta terhadap “balok” keserakahan dan kesombongan di dalam institusi mereka sendiri.
Ironisnya, lingkaran setan ini juga menjangkiti ruang paling intim kita. Di dalam rumah, kita begitu mudah meledak dan emosional terhadap kesalahan kecil pasangan, anak, atau orang tua. Kita menganggap kemarahan kita sebagai pembelaan diri yang benar, tanpa sadar bahwa ego kita telah membatu.
Tuhan Yesus membongkar kemunafikan ini dengan sangat tajam dalam Matius 7:1-5. Beliau menggunakan metafora selumbar (serpihan kayu kecil) dan balok (kayu besar penyangga atap). Mengapa kita begitu peka terhadap dosa kecil sesama, namun mati rasa terhadap dosa besar diri sendiri?
Bacaan pertama, 2 Raja-raja 17 mengisahkan bangsa Israel runtuh dan dibuang bukan karena mereka tidak tahu hukum Tuhan, melainkan karena mereka “menegarkan tengkuknya” (ayat 14) dan menolak introspeksi. Ketegaran tengkuk adalah “balok” rohani yang sesungguhnya. Ia membuat kita tebal muka, keras hati, dan memaklumi kemarahan serta kebebalan diri sendiri seolah-olah itu bukan dosa.
Ketika kita sibuk menjadi hakim bagi sesama, kita sedang memposisikan diri sebagai “tuhan”. Kita menuntut standar kesempurnaan dari orang lain yang kita sendiri gagal penuhi. Dunia, gereja, dan keluarga kita tidak akan dipulihkan oleh caci maki rohani atau penghakiman. Pemulihan selalu dimulai dari hati yang hancur dan tersungkur di bawah kaki salib Kristus, berani mengakui: “Tuhan, sayalah orang munafik yang tegar tengkuk itu.”
Mengeluarkan balok dari mata berarti menyucikan lensa hati kita dengan kerendahan hati. Saat balok kesombongan itu runtuh, amarah dan ego kita akan digantikan oleh belas kasihan. Kita tidak lagi menegur untuk menjatuhkan, melainkan merangkul sesama untuk bertobat bersama-sama.
Allah yang Maha Rahim, ampunilah kemunafikan kami yang begitu mudah marah dan menghakimi selumbar di mata sesama kami. Hancurkanlah balok ketegaran tengkuk di dalam hati kami. Lembutkanlah hati kami agar kami lebih sibuk membenahi diri sendiri daripada mencari kesalahan orang lain, demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
