| Rrenungan hari ini dari bacaan : 2 Raja-raja 19: 9b-11. 14-21. 31-35a. 36; Matius 7: 6.12-14. “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu” (Mat. 7:6). |
Pernahkah kita merasa perahu kehidupan yang kita Jalani dilemparkan oleh gelombang sangat besar hingga kita akan tenggelam? Segala macam badai tak terduga terjadi: diagnosis penyakit yang menakutkan, pemutusan kerja sepihak, kebangkrutan bisnis, atau bahkan keretakan yang lebih hebat dalam rumah tangga, yang mengganggu kedamaian dan kebahagiaan kita. Dalam masa krisis satu hal yang sangat berharga layaknya mutiara bisa kita jaga adalah iman.
Dalam Injil Matius, Yesus memperingatkan kita secara langsung: “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi.” Mutiara yang tak ternilai itu adalah iman kita, perjanjian kita dengan Tuhan dan harapan kita akan keselamatan. Ketika tekanan hidup begitu menghancurkan, dan peluang untuk keluar dari masalah terasa begitu suram, dunia menyediakan jalan besar dan menakutkan. Jalan itu adalah keputusasaan dan kompromi, berbohong di sepanjang kehidupan, menyalahkan diri sendiri atau bahkan meninggalkan Tuhan karena berpikir tidak ada tanggapan dari-Nya, bahkan kemudian percaya bahwa Tuhan diam dan acuh tak acuh.
Yesus meminta kita untuk memilih dengan bijak untuk melewati rintangan, untuk masuk melalui pintu yang sempit, dan ini adalah ketekunan. Ini adalah pilihan yang dengan kehendak bebas kita, untuk mempercayai janji Tuhan, bahkan ketika mata fisik dan mata batin kita belum melihat jalan keluar.
Kita ingat Raja Hizkia dalam 2 Raja-raja. Dia tidak memiliki harapan untuk menang ketika kerajaannya dikepung oleh pasukan ratusan ribu tentara Asyur. Dia diancam dengan kehancuran. Apakah dia panik dan menyerah, membuang mutiara imannya dan menyerah? Tidak. Hizkia menerima surat ancaman itu dan masuk ke dalam Bait Suci, membuka surat itu di depan Tuhan dan berseru meminta bantuan-Nya. Dia tahu kelemahannya sendiri, tetapi dia juga tahu kebesaran Tuhannya. Tuhan bekerja dengan cara yang melampaui pemahaman manusia.
Menjaga mutiara iman berarti kita tidak dihukum kala menangis, kalah, atau goyah. Menjaga mutiara iman adalah mengatakan bahwa di tengah air mata dan kelelahan itu, kita tidak akan berpaling dari wajah Tuhan.
Bagaimana iman kita bisa bangkit dari badai kehidupan?
Pertama, jadikan Doa sebagai Tempat Penyerahan: Jadikan doa sebagai jangkar. Ambil apa pun yang mengancam kedamaian yang kita miliki, apakah itu tagihan yang menumpuk, hasil medis yang buruk, atau masalah keluarga, dan letakkan di hadapan Tuhan. Biarkan Dia membawa beban itu.
Kedua, setia di jalan sempit: Tolaklah mengambil keuntungan dari cara yang tidak jujur ketika ekonomi mendesak. Tetaplah mengampuni ketika rasa sakit hati menuntut balas dendam. Ini adalah bukti bahwa iman kita tidak goyah meski keadaan menghimpit dari segala arah.
Ketiga, pancarkan cinta: Hukum cinta berlaku untuk kita semua yang menderita. Ini memperindah mutiara iman kita untuk bersinar lebih terang ketika kita memilih untuk terus membantu orang lain dalam kesusahan kita sendiri.
Kita belum pulih dari badai dan angin masih menghembuskan angin kencang melawan kita. Jangan sia-siakan mutiara iman kita. Sebab, tidak ada pegangan lain yang lebih penting selain iman yang membawa kita melalui badai seperti gelap dan membawa kita ke dalam keselamatan yang telah dijanjikan-Nya. Ketika badai kehidupan mengamuk dan kita hampir kehilangan pegangan, ingatlah: mutiara iman itu tidak akan pernah retak selama kita tidak berhenti menggenggamnya bersama Tuhan.
