Shema: Bukan Hanya Mendengar Tapi Memiliki Karakter Ilahi ( 4 Juni 2026 )

2 Timotius 2:8-15; Markus 12:28b-34 “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan” (Mrk. 12:33).

Menurut Maimonides ada 613 hukum dalam Kitab Suci, dan seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” Yesus menjawab dengan mengutip Shema, pengakuan iman Israel yang sangat terkenal:
“Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (lih. Ul. 6:4-5). Lalu Yesus menambahkan hukum kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Percakapan ini menyentuh inti kehidupan rohani manusia: apa yang sebenarnya Allah inginkan dari umat-Nya?
Ahli Taurat itu bertanya mana hukum yang paling utama. Biasanya yang utama itu pasti satu, tetapi Yesus menjawab bahwa hukum yang utama ada dua, yaitu mengasihi Allah dan sesama.
Menariknya, Yesus tidak berkata bahwa hukum yang terutama adalah sekadar mengucapkan Shema. Pengakuan bahwa Allah itu esa memang penting, tetapi pengakuan itu harus menghasilkan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Iman yang benar harus terlihat dalam kehidupan yang benar.
Dalam bahasa Ibrani, kata “shema” bukan hanya berarti “mendengar,” tetapi juga “mendengar dengan ketaatan.” Dengan kata lain, Allah tidak hanya mencari orang yang mendengar firman-Nya, melainkan orang yang menaatinya. Kita dapat menghadiri kebaktian setiap minggu, mengikuti banyak seminar rohani, bahkan mengetahui banyak doktrin Alkitab, tetapi jika hidup kita tidak berubah, kita sebenarnya belum benar-benar “Shema.” Belum sungguh-sungguh memiliki iman yang benar terhadap Allah yang Esa, pencipta langit dan bumi. Sebab, iman bukanlah sekadar pengetahuan tetapi ketaatan terhadap kehendak Allah.
Ahli Taurat itu ternyata memahami hal ini. Ia menjawab bahwa mengasihi Allah dan mengasihi sesama jauh lebih penting daripada semua kurban bakaran dan kurban sembelihan. Ini adalah pengakuan yang luar biasa. Ia mengerti bahwa ritual keagamaan tidak pernah dimaksudkan menjadi tujuan akhir. Kurban, ibadah, dan liturgi seharusnya membawa manusia kepada kasih dan ketaatan kepada Allah.
Perkataan ahli Taurat ini mengingatkan kita kepada firman Tuhan dalam Hosea 6:6: “Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan kurban sembelihan;” juga kepada perkataan Samuel kepada Saul, “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada kurban sembelihan.” (1Sam. 15:22).
Masalahnya, manusia sering membalik urutannya. Kita lebih mudah datang ke gereja daripada mengampuni orang yang menyakiti hati. Lebih mudah menyanyikan pujian daripada menahan emosi. Lebih mudah memberikan persembahan daripada bersabar terhadap orang tua atau pasangan. Lebih mudah melantunkan doa-doa daripada menjaga mulut, jari, atau mata kita dari mengatakan atau melihat hal yang tidak Allah kehendaki. Lebih fasih berbicara tentang Allah daripada menunjukkan karakter Allah.
Karena itu, ketika ahli Taurat itu setuju dengan jawaban Yesus, tanggapan Yesus kepada ahli Taurat sangat menarik, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”
Yesus tidak berkata, “engkau sudah menjadi bagian Kerajaan Allah,” tetapi “engkau tidak jauh.” Tidak jauh berarti dekat, tetapi masalahnya belum sampai di tujuan.
Mengapa? Karena memahami kebenaran belum sama dengan hidup di dalam kebenaran. Mengetahui bahwa kasih adalah hukum yang terutama, belum berarti kita sudah mengasihi. Mengetahui tentang Allah yang Esa, belum berarti memiliki iman yang benar kepada-Nya.
“Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yak. 2:19). Setan pun memiliki pengetahuan akan Allah yang Esa, tetapi mereka tidak menaati dan mengasihi Allah yang Esa.
Bagi kita yang hidup di zaman ini, tantangan ini sangat nyata. Kita sibuk bekerja, mengurus keluarga, membangun karier, melayani di gereja, dan menjalankan berbagai tanggung jawab. Namun, pertanyaan terpenting tetap sama: apakah kita sungguh mengasihi Allah dengan segenap hati?
Kasih kepada Allah terlihat dalam keputusan sehari-hari. Ketika kita memilih kejujuran daripada keuntungan yang tidak benar. Ketika kita mengampuni orang yang menghianati kita, sabar merawat orang tua kita, dan setia pada pasangan walaupun ada kesempatan untuk tidak setia. Ketika kita tulus melayani walaupun tidak dihargai. Ketika kita menggunakan waktu, uang, dan tenaga untuk menjadi berkat bagi sesama.
Hari ini, mari bertanya kepada diri sendiri: selama ini kita yang rajin membaca dan belajar kitab suci, apakah kita hanya memenuhi pikiran kita dengan pengetahuan akan Allah? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengasihi Allah? Apakah kita hanya dekat dengan Kerajaan Allah, ataukah kita sudah hidup sebagai warga Kerajaan Allah yang memiliki karakter ilahi?
Kiranya Tuhan menolong kita bukan hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelakunya. Sebab, mengasihi Allah dengan segenap hati akan selalu terlihat dalam kasih yang nyata kepada sesama.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *