Kamu Sesat, Kamu Benar-benar Sesat ( 3 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 2 Timotius 1:1-3; Markus 12:18-27

Judul di atas diambil dari kutipan kata dalam perikop Injil yang dibaca hari ini. Bacaan hari ini, 2 Timotius 1:1-3 dan Markus 12:18-27, merupakan dua perikop yang saling berkaitan dan dapat menjadi bahan refleksi yang mendalam bagi hidup kita.
Dalam Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius, Paulus kembali menegaskan dirinya sebagai rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah dalam pengantar suratnya kepada Timotius (2Tim. 1:1). Pada ayat berikutnya, Paulus menegaskan posisi Timotius sekaligus menyampaikan doa baginya. Kemudian pada ayat 3, Paulus mengucap syukur kepada Allah dan menyatakan bagaimana pelayanannya dijalankan, yaitu dengan hati nurani yang murni seperti yang telah dilakukan nenek moyangnya.
Ketika membaca perikop ini, terbayang beberapa pertanyaan. Apakah yang akan disampaikan Paulus bila ia menyurat kepadaku? Apakah isi doa Paulus untukku? Bila aku yang menjadi Paulus, apakah yang menjadi dasar pelayananku? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini menjadi modal untuk merenungkan perikop Markus 12:18-27.
Saat merenungkan perikop ini, mari menempatkan diri sebagai salah satu pendengar Markus yang telah lanjut usia ketika menuliskan kenangan tentang peristiwa Yesus kepada umat beriman di kota Roma yang tidak berlatar belakang Yahudi. Kemudian, ketika membaca perikop ini berulang-ulang, pada bagian tertentu mari menempatkan diri sebagai orang Saduki. Hayatilah diri sebagai orang Saduki.
Kaum Saduki adalah kelompok aristokrat, bangsawan, dan imam Yahudi yang sangat berkuasa di Yerusalem pada zaman Perjanjian Baru. Mereka mendominasi Bait Suci dan majelis Sanhedrin serta memilih bekerja sama dengan Kekaisaran Romawi demi menjaga status sosial dan kekayaan mereka. Mereka berposisi berlawanan dengan kaum Farisi, namun dapat bersekutu dengan mereka dalam menentang Yesus.
Bayangkanlah apa yang dirasakan oleh kaum Saduki ketika mengajukan pertanyaan tentang kebangkitan (Mrk. 12:19-23). Pertanyaan itu jelas bukan pertanyaan informatif, bukan pula pertanyaan untuk mencari kebenaran. Bahkan bukan sekadar pertanyaan retoris. Pertanyaan itu memang dimaksudkan untuk menjebak Yesus.
Mereka mengajukan kasus seorang perempuan yang menikah dengan tujuh bersaudara laki-laki secara bergantian sesuai hukum levirat. Lalu mereka bertanya: pada hari kebangkitan nanti, ketika semuanya bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu?
Dalam dialog tersebut, jawaban Yesus sungguh mengagetkan dan sangat keras: “Kamu sesat!” (Mrk. 12:24)
Dan kemudian: “Kamu benar-benar sesat!” (Mrk. 12:27)
Bayangkanlah Anda menjadi seorang Saduki, anggota majelis yang mendominasi Bait Allah pada zaman itu, lalu mendengarkan jawaban seperti itu. Posisi mereka kurang lebih setara dengan anggota kuria, dewan paroki, atau penatua pada zaman ini. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengaruh dan kewenangan keagamaan, namun justru menerima teguran yang sangat keras dari Yesus.
Tanggapan Yesus ini sungguh mempertanyakan posisi dan penghayatan iman kita juga pada zaman ini. Apakah kita sungguh mengerti Kitab Suci dan kuasa Allah? Ataukah kita juga adalah kaum Saduki zaman ini? Apakah Allah yang kita hayati adalah Allah orang hidup atau Allah orang mati?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengantar kita pada pemeriksaan batin yang lebih mendalam.Apakah aku tersesat? Ataukah aku seperti Timotius yang setia menerima bimbingan iman? Ataukah aku berusaha hidup seperti Paulus yang melayani dengan hati nurani yang murni?
Refleksi ini menjadi sangat relevan di tengah zaman yang penuh dengan informasi, opini, dan berbagai kemajuan teknologi. Pengetahuan yang melimpah tidak selalu membuat seseorang semakin mengenal Allah. Justru karena itu, kita perlu terus memeriksa apakah hidup, pelayanan, dan cara berpikir kita sungguh berakar pada Kitab Suci dan terbuka pada kuasa Allah.
Luangkan waktu sejenak untuk memeriksa dasar iman dan pelayanan yang sedang dijalani.
Bacalah kembali Markus 12:18-27 dan tanyakan dengan jujur: bagian mana dari hidupku yang mungkin masih “sesat” karena mengandalkan logikaku sendiri? Renungkan apakah aku sungguh mengenal Allah sebagai Allah yang hidup dan berkarya dalam keseharianku.
Gunakan ilmu pengetahuan dan kecerdasan artifisial sebagai sarana untuk semakin mencari kebenaran dan memuliakan Allah, bukan menggantikan relasi dengan-Nya.
Allah orang hidup, tegurlah aku dalam hidup ini, dalam menekuni hidupku penuh syukur kepada-Mu. Jangan biarkan aku tersesat atau tergoda untuk tersesat, terutama di zaman kecerdasan artifisial ini. Dampingilah aku berjalan di tengah zaman ini dan menggunakan kecerdasan artifisial untuk menuntunku senantiasa memuliakan-Mu, Allah orang hidup.
Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *