Kedamaian Sejati ( 22 Oktober 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Efesus 3:14–21; Lukas 12:49–53
“Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan! Kata-Ku kepadamu: bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk. 12:51).

Fritz dikenal sebagai pribadi yang baik oleh rekan-rekan kerjanya. Ia bukan tipe orang yang suka berkonflik; sebisa mungkin ia selalu menjaga keharmonisan relasi dengan siapa pun.
Suatu hari, di tempat kerjanya, Fritz mendapati adanya rekayasa laporan kerja. Data sengaja dipoles agar hasil terlihat memuaskan dan target perusahaan tampak tercapai.
Melihat kegelisahannya, seorang rekan berbisik, “Sudahlah, jangan ikut campur. Kita semua juga tahu tahu bagaimana keadaan sebenarnya. Yang penting pekerjaan beres dan posisi kita aman.”
Fritz tertegun sejenak. Ia tahu bahwa jika ia memilih bungkam, posisinya akan aman, ia mendapat keuntungan, relasi dengan rekan kerja tetap mulus, dan tidak ada gesekan apa pun. Namun, nuraninya menolak kompromi itu. Dengan tenang ia berkata, “Saya tidak ingin bertengkar dengan siapa pun, tetapi saya juga tidak bisa mengatakan benar apa yang keliru.”
Suasana ruangan seketika hening. Rekannya menanggapi dengan kecewa, “Kamu sekarang sudah berubah. Dulu selalu bilang ingin damai, sekarang malah bikin masalah.”
“Saya tetap ingin hidup damai dengan kalian,” jawab Fritz tanpa nada menuduh. “Saya tidak ingin bermusuhan. Namun, damai bukan berarti saya harus ikut melakukan sesuatu yang saya yakini salah.”
Sejak peristiwa itu, hubungan Fritz dengan beberapa rekannya menjadi kurant nyaman. Beberapa rekan mulai menjaga jarak dan mencapnya terlalu idealis. Meskipun demikian, Fritz tidak membalas dengan kebencian ataupun sikap defensif; ia tetap menghormati mereka.
Hingga suatu hari, seorang temannya menghampiri dan mengakui secara jujur, “Sebenarnya aku tahu kamu benar. Aku cuma takut kalau harus berbeda sendiri dari yang lain.”
Fritz tersenyum lalu menjawab, “Kita tidak harus bermusuhan hanya karena berbeda pilihan. Yang terpenting, kita sama-sama punya keberanian untuk mencari dan berdiri di atas apa yang benar.”
Sikap yang diambil Fritz mencerminkan firman Yesus kepada para murid-Nya: “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan! Kata-Ku kepadamu: bukan damai, melainkan pertentangan.”
Yesus tentu tidak sedang mengajak para pengikut-Nya mencari permusuhan. Sabda ini menegaskan panggilan keberanian untuk teguh berpegang pada iman dan kebenaran, kendati hal itu membuat kita berbeda dari arus kebanyakan.
Ketika lingkungan memilih jalan kompromi, orang yang memilih jalan lurus kerap dicap sebagai “pembuat masalah”. Ketika mayoritas mengejar zona nyaman, orang yang menjaga kejujuran sering dianggap kaku dan menyulitkan.
Di titik inilah kebenaran sabda Kristus teruji. Kita tidak dipanggil untuk memicu pertengkaran, tetapi kita juga tidak boleh menukar kebenaran demi sebuah rasa aman palsu. Kedamaian sejati bukanlah kesepakatan semu di mana semua orang berpura-pura setuju. Damai yang sejati lahir ketika kita berani berpaut pada kebenaran ilahi, sembari tetap membuka hati untuk mengasihi sesama tanpa rasa benci.
Mengikut Sang Juru Selamat menuntut keteguhan hati: berani memilih kebenaran dalam situasi apa pun, sekalipun keputusan itu membuat kita tidak populer, ditolak, atau bahkan melahirkan pertentangan.
Ya Tuhan Yang Mahakasih, ajarilah kami untuk menghadirkan perkataan dan perbuatan yang berakar pada kedamaian sejati. Karuniakanlah hikmat-Mu agar kami memiliki keberanian untuk menyuarakan dan melakukan hal yang benar, di tengah situasi serta kondisi apa pun. Amin.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *