Melihat dengan Hati, Menghidupi Kasih Sejati ( 23 Oktober 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Efesus 4:1–6; Lukas 12:54–59.
“Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” (Ef. 4:6)

Dalam perjalanan hidup, kita kerap bertemu dengan orang-orang yang selalu merasa mengetahui segala sesuatu, merasa selalu benar, dan sulit menghargai orang lain. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Sering kali mereka sudah berusaha keras mencari informasi untuk memahami sesuatu, lalu memegang teguh apa yang mereka ketahui sebagai satu-satunya kebenaran. Dari sana, mereka mulai menilai orang lain dan memandang kehidupan semata-mata dari sudut pengetahuan yang mereka kira kebenaran itu.

Teguran Yesus kepada orang banyak sangat relevan dengan sikap ini:

“Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Luk. 12:55–56)

Sebagian besar ahli Taurat pada masa itu belajar dengan sangat keras mengenai isi Taurat, bahkan sampai menghafalnya di luar kepala. Namun malangnya, mereka mengira pemahaman kognitif mereka tentang Taurat itulah yang paling penting dalam hidup. Akibatnya, mereka meninggikan diri, merasa lebih tahu dari banyak orang, dan gemar menghakimi sesama.

Yesus menegur mereka dengan kata-kata yang keras karena hati para ahli Taurat itu pun keras. Sebenarnya, Dia ingin menggugah mereka agar dapat menilai zaman tidak hanya dengan logika atau rasio semata, melainkan dengan menghidupkan hati nurani dan kepekaan rohani.

Jika seseorang tidak sungguh-sungguh berusaha memahami kehendak Allah dengan benar, ada konsekuensi pertanggungjawaban yang serius menanti:

“Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.” (Luk. 12:59)

Kelemahan para ahli Taurat adalah mereka pandai, namun hanya mengandalkan rasio dalam menafsirkan Taurat. Akibatnya, mereka menyangka Mesias hanyalah seorang raja pemimpin kekuasaan duniawi. Mereka gagal menangkap hakikat Raja yang jauh lebih besar: Raja alam semesta yang tidak perlu kaya harta, melainkan kaya belas kasih.

Raja itu menegaskan bahwa puncak dan fondasi seluruh hukum adalah KASIH:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:37–39).

Bagaimana jika ternyata kita sendiri pun sering gagal paham akan kehendak Allah?

Pada zaman modern ini, orang kerap mengagungkan pemikiran yang semata-mata rasional dan logis sebagai tolok ukur kehebatan seseorang, lalu memilih memandang Tuhan menurut selera dan persepsi masing-masing.

Kita diingatkan agar jangan sampai bermegah diri, merasa sudah memahami banyak hal, lalu menutup telinga dan enggan mendengarkan orang lain. Fondasi yang harus senantiasa kita tanamkan dalam hati dan akal budi kita adalah kesadaran akan kedaulatan-Nya:

Paulus, seorang yang dulunya ahli Taurat yang sangat pandai, namun kemudian rela dipenjarakan demi Kristus, memberikan nasihat praktis bagi kita dalam menghidupi kebenaran:“Supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.” (Ef. 4:1b–2a).

Pengetahuan yang benar tidak membuahkan arogansi, melainkan kerendahan hati, kesabaran, serta kelemahlembutan saat berhadapan dengan orang lain.

“Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu.” (Ef. 4:2b).  Kasih tidak berhenti pada konsep pikiran atau kata-kata, melainkan mewujud dalam kesediaan untuk menolong dan menopang sesama.

Marilah kita merenungkan apa yang paling esensial dalam hidup beriman: “Berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu.” (Ef. 4:3–4)

Ketika kita menyadari bahwa kita menyembah Allah yang satu, Allah yang di atas semua, melalui semua, dan di dalam semua, maka kerendahan hati dan damai sejahtera akan senantiasa mengikat kita bersama.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *